mesin-its-indonesia

Sapu Angin Teknik Mesin ITS

In IPTEK, teknik mesin on 05/01/2010 at 15:23
ITS Bikin Sapu Angin untuk Shell Eco-Marathon 2010 di Kuala Lumpur

Targetnya, Satu Liter 1.000 Kilometer

Tim ITS dijadwalkan mengikuti Shell Eco-Marathon 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia, 8-10 Juli mendatang. Lomba karya kendaraan efisien dan kendaraan perkotaan. Mereka menyiapkan dua mobil yang diberi nama Sapu Angin.

BENTUKNYA mirip perahu. Tapi, sebetulnya bodi Sapu Angin mengambil bentuk tetesan air, ramping dan dapat memanfaatkan tenaga aerodinamis. ”Bentuk bodi ini sudah diuji di Laboratorium Mekanika dan Fluida,” kata Muhammad Agus Setiawan, manajer tim ITS untuk lomba tersebut.

Bentuk air menetes plus bodi yang terbuat dari fiberglass membuat mobil itu ringan dan mudah bergerak. Dengan demikian, hal itu akan berpengaruh pada jumlah bahan bakar dan energi yang dikeluarkan. ”Kami meminimalkan banyak hal untuk menghemat bahan bakar,” jelas Agus.

Karena bobotnya yang sangat ringan itu, Kepala Jurusan Teknik Mesin ITS dr Ing Herman Sasongko memberi nama Sapu Angin. ”Mengambil filososi Sunan Kali Jaga yang mampu berpindah tempat tanpa menghabiskan banyak energi berkat ajian Sapu Angin,” papar Agus.

Ada tiga hal yang membuat Sapu Angin ITS sangat irit. Yakni, efisiensi energi dengan mengurangi berat kendaraan, koefisiensi dari ban, dan koefesiensi mesin.

Efisiensi berat dilakukan dengan menggunakan bahan fiberglass pada bodi. “Beratnya hanya 22 kg,” ujarnya. Sasisnya menggunakan sistem monokok yang tidak menggunakan tulangan besi. Proses pencetakan rangkanya digabung dengan bodi mobil.

Sapu Angin berkapasitas satu penumpang, driver saja, menggunakan tiga roda. Dua di depan berfungsi sebagai penggerak atau steering. Sedangkan satu di belakang untuk memudahkan gerakan mobil. Memakai ban silk yang diharapkan punya koefisien gesek kecil, terutama pada gaya gesek roda. Diameter roda dan ukuran bannya lebih kecil daripada mobil umumnya. “Besarnya hanya 20 inci,” katanya.

Terakhir, efisiensi mesin yang akan menggunakan sistem EFI (full injection). Sistem itu membuat bahan bakar dialirkan ke mesin jika diperlukan saja. ”Kami sebut sistem energy on demand. Energi hanya dialirkan sesuai kebutuhan,” jelas Agus.

Dalam undangan yang disampaikan Shell pada Januari tahun lalu, ada dua kategori dalam lomba tersebut. Yakni, mobil Futuristic Prototypes dan Urban Concept Vehicle. Keduanya adalah lomba mendesain dan membangun kendaraan yang memaksimalkan efisiensi serta kendaraan urban masa kini.

ITS membentuk dua tim untuk mewakili dua kategori tersebut. ” Kami menyeleksi teman-teman dari jurusan mesin,” ujar Agus. Seleksi dilakukan berdasar kemampuan dan kebutuhan tim. Maka, terpilihlah 15 mahasiswa.

Mobil yang sedang digarap itu adalah Sapu Angin I, kategori prototypes. Mesinnya menggunakan Honda GX-35 yang dimodifikasi. Beberapa bagian yang dimodifikasi adalah sistem klep/katup pemasukan bahan bakar yang semula memakai karburator diganti dengan sistem injeksi (EFI).

Targetnya, Sapu Angin I yang mulai digarap sejak Agustus lalu mampu memanfaatkan 1 liter bahan bakar untuk 1.000 km. ”Kami optimistis menang,” tegas Agus. Dengan kecepatan 25-35 km/jam, mobil itu memang tidak akan berlaga dalam kecepatan, tapi keiritan.

Semula, tim ingin membuat mesin sendiri. Namun, mereka terkendala pabrik yang tidak bisa memenuhi keinginan mahasiswa. “Pabrik di Indonesia tidak bisa,” katanya.

Karena itu, mereka memakai mesin Honda. Tiap hari tim mengerjakan tugas tersebut sepulang kuliah. Sapu Angin I yang panjangnya 2,5 meter dan lebar 80 cm itu dijadwalkan rampung bulan ini, kemudian baru menggarap Sapu Angin II untuk kategori urban concept vehicle.

Tim ITS, selain tim teknis, terdiri atas tim marketing. “Tapi, tetap satu manajemen,” imbuh mahasiswa mesin angkatan 2006 tersebut. Sebab, “Yang akan dilombakan bukan hanya mobilnya, tapi juga manajerial tim,” papar Agus.

Tim marketing bertugas berkomunikasi dengan pihak luar, mencari sponsor, dan sebagainya. Dana yang dibutuhkan untuk membuat prototipe mobil tersebut memang cukup besar, sekitar Rp 100 juta satu unit. “Tapi, yang paling banyak memakan biaya adalah akomodasi ke Malaysia,” ungkapnya.

Pihak Shell memberi dana USD 3.750 atau sekitar Rp 35 juta untuk satu unit mobil. Namun, tim baru menerima USD 2.000. ”Padahal, kami sudah habis Rp 40 juta,” kata mahasiswa asli Surabaya tersebut. Karena itu, tim mengandalkan donor dan sponsor untuk menutup kekurangannya.

Rencananya, Sapu Angin I di-launching Senin mendatang sekaligus diuji coba di Kenjeran Park. Selain ITS, tim dari UGM, ITB, dan UI berpartisipasi dalam lomba tersebut. (cfu)

  1. Sip lah, Semoga tim2 dari kampus Indonesia bisa juara di Shell Eco Marathon dan even ini jadi bisa menjadi bagian dari inspirator kemajuan karya teknik mesin Indonesia.
    http://mechinoz.com | Zona Kreasi dan Informasi Teknik Mesin

  2. wah keren , moga menang ja di Shell eco maraton

  3. Lho waktu di kick andy katanya pake mesin buatgan sendiri, lha di sini koq dikatakan make Honda GX-35? Mana yang benar mas/mbak?

  4. semoga kemajuan indonesia di bidang otomotif dimulai dari prlombaan itu

  5. denger2 mw ngdain open rekruitment untuk pengembangan sapu angin. kapan mw di buka????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: