mesin-its-indonesia

Sains,Teknologi dan Kebijakan

In Opini on 29/01/2008 at 07:41

Sains,Teknologi dan Kebijakan
Oleh: Harus Laksana Guntur
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=321239&kat_id=16

Saya sangat yakin kalau istilah sains dan teknologi yang kebanyakan dari kita mengenalnya dengan sebutan ilmu, pengetahuan, dan teknologi (iptek) sudah sangat akrab di telinga, mata, dan otak kita. Apalagi, bagi mereka yang tiap hari bergulat dengan sains dan teknologi, seperti praktisi pendidikan, peneliti, dan para pengambil kebijakan.

Tapi, sayangnya masih banyak yang mencampuradukkan sains dengan teknologi karena belum memahami betul perbedaan keduanya. Hal ini akan berakibat fatal pada proses pengembangan sains dan teknologi itu sendiri apabila ketidakpahaman ini terus berlanjut, terutama bagi para pengambil kebijakan yang bersentuhan dengan bidang ini.

Sains adalah pengetahuan (knowledge) yang didapatkan dengan cara sistematis tentang struktur dan perilaku dari segala fenomena yang ada di jagad raya dan isinya, baik fenomena alam maupun sosial. Semuanya didapat melalui sebuah proses observasi, pengukuran, penelitian, dan pengembangan teori-teori untuk menggambarkan hasil dari aktivitas ini. Sementara itu, teknologi merupakan aplikasi dari sains sebagai respons atas tuntutan manusia akan kehidupan yang lebih baik.

Sains dan teknologi adalah dua hal yang berbeda baik makna maupun sifatnya. Sains merupakan public good, dan haruslah terbuka (open source). Siapa pun bebas mengakses dan menggunakannya tanpa harus membayar lisensi pemakaian sebuah sains.

Ambil contoh hukum Newton. Tidak mungkin pemerintah atau siapa pun melarang seseorang untuk memakai dan mengembangkannya. Juga tidak ada rivalitas untuk menguasainya.

Sains atau ilmu dikembangkan melalui riset-riset dasar yang akan menghasilkan ilmu-ilmu baru, dan sepenuhnya didorong oleh komunitas. Dengan demikian, pengembangan sains akan dibatasi oleh norma yang berlaku dalam komunitas.

Teknologi adalah private good dan oleh karenanya setiap temuan teknologi baru membutuhkan lisensi. Kita tidak bisa dengan bebas memakai teknologi yang ditemukan seseorang karena akan dibatasi oleh lisensi tadi.

Karena itu, siapa pun yang menggunakan teknologi tertentu harus membayar lisensinya atau membeli produknya. Menjadi tugas pemerintah untuk mengatur dan membuat undang-undangnya. Teknologi dikembangkan melalui riset-riset terapan dan akan sangat ditentukan oleh market.

Jantung pengembangan
Mengembangkan sains dan teknologi tidak bisa dilakukan dengan mengabaikan makna dan sifat dari keduanya. Kebijakan sains dan teknologi harusnya promakna dan prosifat keduanya. Upaya Pemerintah Indonesia memajukan pendidikan tinggi dengan melakukan privatisasi perguruan tinggi negeri, seperti IPB, UI, UGM, ITB, dan UNAIR adalah bentuk ketidakpahaman pemerintah akan makna sains dan teknologi.

Saya khawatir itu justru akan mengancam pengembangan sains dan teknologi di Tanah Air. Privatisasi universitas-universitas negeri dikhawatirkan tidak hanya akan mendorong pendidikan biaya tinggi yang hampir bisa dipastikan akan membebani mahasiswa sebagai pengguna jasa pendidikan tinggi. Tapi, itu juga akan memunculkan sebuah kompetisi tidak sehat di antara perguruan tinggi.

Perguruan tinggi sebagai sebuah public good bisa jadi dikalahkan dengan fungsi barunya sebagai market-oriented enterprises. Selain itu, policy ‘pukul rata’ ini akan mematikan riset-riset dasar sebagai jantung pengembangan sains di tanah air.

Riset dasar dipaksa untuk self-finance dan menjual produknya ke pasar berkompetisi dengan produk dari riset terapan. Padahal, sampai kapan pun, produk riset dasar berupa sains tidak bisa diserap pasar dan sebagai konsekuensinya tidak akan ada kontribusi finansial dari pasar buat pengembangan riset dasar. Di negara maju, pengembangan sains disubsidi penuh oleh pemerintah sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pengembangan sains.

Pemerintah melalui Mendiknas bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan di Tanah Air dan pengembangan sains dengan memberikan subsidi penuh terhadap riset-riset dasar bersama Menristek. Sementara itu, riset-riset terapan sebagai sarana pengembangan teknologi yang berorientasi pasar, sumber pendanaannya bisa disiasati dengan menyediakan payung hukum bagi terciptanya sebuah hubungan saling menguntungkan antara market, industri, dan riset terapan.

Dengan demikian, diharapkan mampu mendorong terciptanya kolaborasi riset-riset terapan antara perguruan tinggi dan industri yang mampu merespons kebutuhan pasar dalam negeri. Riset terapan bisa mendapatkan sumber pendanaan dari lisensi teknologi dan kerja sama dengan industri.

Dengan dana riset pemerintah yang minim, sebagian besar bisa dialokasikan pada riset dasar. Produk riset terapan kita masih belum mampu merespons kebutuhan mendasar dari pasar dalam negeri, kebutuhan akan teknologi pertanian maupun kelautan.

Kita ini sudah punya banyak sekali badan-badan riset, seperti LIPI, BPPT, BATAN, BAPETEN, dan LAPAN. Tapi, kelihatannya masih belum punya arah yang jelas dan masih tumpang tindih dalam membagi tugas mengembangkan sains dan teknologi.

Kalau perlu, Departemen Perindustrian dimerger ke dalam Kementerian Riset dan Teknologi menjadi Kementerian Riset Teknologi dan Industri (Menristekin), seperti banyak kita temukan di negara maju, termasuk Jepang. Merger ini tidak saja akan mampu mempercepat laju pengembangan teknologi dan industri di Tanah Air, tapi juga menciptakan sinergi dan kesamaan visi-misi dalam mengembangkan teknologi dan industri yang berorientasi pasar dalam negeri.

Ikhtiar:
– Sains dan teknologi dua hal yang berbeda.
– Upaya pemerintah memprivatisasi perguruan tinggi akan menghambat kemajuan sains dan teknologi.
– Di negara maju, pengembangan sains disubsidi penuh oleh pemerintah sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pengembangannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: