mesin-its-indonesia

Universitas dan Social Entrepreneurship

In Opini on 16/01/2008 at 09:19

Universitas dan Social Entrepreneurship
Oleh: Harus Laksana Guntur
Dosen Mesin ITS, sedang menimba ilmu di Tokyo Institute of Technology, Jepang

Didalam artikel saya sebelumnya, di kolom Opini Harian Republika (Sabtu,1/12/ 2007), saya menulis tentang Tantangan Baru Universitas Kita. Universitas harus mampu menciptakan sosok business entrepreneur yang mampu mengubah temuan riset menjadi business enterprises dan bisa mendatangkan keuntungan ekonomi bagi mahasiswa, peneliti, universitas dan masyarakat. Universitas harus mampu mencetak spin out company berbasis inovasi teknologi yang mampu menggerakkan perekonomian nasional dan global.Maka, pada tulisan ini, saya ingin memaparkan satu fenomena global-baru, yang menggambarkan fungsi lain yang juga sangat signifikan dari sebuah Universitas.

Social Entrepreneurship

Kira-kira satu minggu yang lalu, saya diajak salah seorang professor di Department of Social Engineering, Tokyo Institute of Technology, untuk membantu mendistribusikan undangan launching program baru bernama Social Enterprises pada mahasiswa asing yang ada di kampus, sekaligus memberikan kata sambutan diawal acara.

Ide dasar dari peluncuran program baru yang diberi nama Social Enterprises ini adalah membentuk sosok Social Entrepreneur yang mampu memproduksi inovasi sosial atau solusi atas masalah-masalah sosial secara berkelanjutan (Sustainable Social Innovation). Idenya berawal dari kenyataan di dunia saat ini, bahwa masih ada sekitar 4 miliar penduduk dunia-umumnya tingal di negara berkembang seperti Indonesia-yang out of global market. Mereka ini adalah masyarakat miskin yang berada di Bottom of Pyramid dalam struktur ekonomi dunia. Sementara hasil inovasi teknologi sampai saat ini hanya menyentuh rich people’s world, yaitu dunia orang-orang di puncak piramida, dengan tingkat ekonomi menengah keatas, yang jumlahnya sangat sedikit.

Saya yakin istilah ini masih baru ditelinga sebagian besar kita. Yang sering kita dengar adalah istilah business enterprises. Ada hal-hal mendasar yang membedakan social enterprise dengan business enterprise. Business enterprise dibentuk untuk tujuan ekonomi atau profit oriented. Sementara social enterprise dibentuk untuk sebuah tujuan mulia, yaitu solusi yang sustainable dari sebuah masalah sosial, tanpa mengabaikan aspek ekonomi. Karena bagaimanapun juga, dibutuhkan dana untuk bisa membuat sebuah inovasi sosial (social innovation) berjalan secara sustainable.

Kita patut bersyukur, karena di dunia ini ternyata masih ada orang yang berpikiran bahwa menjadi orang kaya raya itu bukanlah hal yang penting. Tapi, bagaimana selama hidup ini kita bisa berkontribusi mencarikan solusi atas masalah-masalah sosial, walau tidak menjadi orang kaya raya.

Setelah Muhammad Yunus sukses dengan social enterprises-nya (Grameen Bank), dan berhasil meraih Nobel pada 2006 atas apa yang dia lakukan di Bangladesh, maka, baru-baru ini, dunia kembali digemparkan dengan pilihan hidup seorang John Wood (35thn), yang memilih meninggalkan posisinya sebagai Direktur Pengembangan Bisnis Microsoft untuk wilayah Cina karena ingin mendedikasikan dirinya pada masalah-masalah sosial, dengan mendirikan NPO bernama Room to Read. Dia memilih menjadi seorang social entrepreneur disaat karir bisnisnya berada di puncak. Sebuah pilihan yang sangat berani dan patut dipuji

Dalam momoirnya, Leaving Microsoft to Change the World,John menceritakan bahwa Room to Read terinspirasi oleh kondisi memperihatinkan dari dunia pendidikan di negara berkembang. Ketika dia mengunjungi sebuah sekolah dasar di sebuah desa di Nepal, pada tahun 1998, dia menemukan kondisi yang sangat memprihatinkan, hampir tidak ada buku disana. Kondisi inilah yang kemudian mengubah hidupnya dari seorang executive menjadi seorang yang mengabdikan diri pada masalah sosial dan mendirikan sebuah NPO bernama Room to Read pada 1999.Sampai saat ini, Room to Read telah berhasil mendirikan lebih dari 4100 sekolah dan perpustakaan di negara berkembang seperti Nepal, India, Kamboja, Laos, Sri Lanka, Vietnam dan Afrika Selatan. Yang menarik dari apa yang dilakukan oleh John Wood adalah bagaimana dia bisa membuat sebuah social innovation menjadi sustainable. Disinilah pentingnya peran seorang social entrepreneur!

Universitas Membentuk Social Entrepreneurs

Kalau di Indonesia para praktisi pendidikan tingginya masih sibuk mencari cara agar bisa berpolitik-menjadi pengurus “gelap” sebuah partai atau bahkan membikin partai-yang ternyata kalau kita kaji lebih dalam, esensinya tidak jauh dari seputar syahwat ingin berkuasa. Maka, kita bisa menemukan fenomena lain di negara-negara makmur. Para praktisi pendidikan tingginya disibukkan dengan bagaimana bisa berkontribusi bagi penyelesaian masalah sosial secara berkelanjutan. Mereka “berambisi” untuk meng-upgrade tingkatan masyarakat dunia dari level civil society menjadi civic society (Masyarakat yang keberadaanya selalu ingin memberikan manfaat bagi orang-orang disekitar dan lingkungannya).

Program social enterprise yang baru saja di luncurkan di Tokyo Instutute of Technology adalah salah satu contoh dari sebuah keinginan para praktisi pendidikan tinggi di negara maju untuk mencetak sosok-sosok social entrepreneur dan mengarah pada terciptanya sebuah civic society. Membentuk masyarakat yang civic minded dan selalu ingin mengorbankan sebagian dari apa yang dia miliki untuk kebahagian orang lain. Universitas-universitas besar di negara maju, seperti AS, Inggris, Perancis, Jerman, Finlandia, Jepang dan negara maju lainnya juga mengarah pada satu fenomena yang sama.

Universitas di era global, dituntut untuk tidak saja menjadi penggerak ekonomi berbasis inovasi teknologi, tapi juga menjadi mesin pencetak sustainable social innovation. Atau dengan kata lain, Universitas dituntut untuk mampu mencetak sosok inovator, business entrepreneur dan, sekaligus sosok social entrepreneur! Mudah-mudahan Universitas kita juga ikut terseret oleh arus global ini dan dalam waktu tidak lama, Indonesia bisa bangkit menemukan solusi atas berbagai masalah sosialnya!***

  1. Semua bisa terwujud manakala sistemnya sudah bisa mewadahi untuk itu.
    Selain itu, yang paling penting, jer basuki mawa bea.😛

  2. Setuju, bahkan semangat wirausaha tidak hanya dikobarkan di tingkat perguruan tinggi, tetapi juga sejak pendidikan dini. Kampus kami, STIE Tunas Nusantara, sudah dari dulu mencanangkan itu melalui motto kami:”Kuliah dengan Bea Siswa, Tamat Menjadi Wira Usaha”. Demikian juga TK Bhakti Nusantara, yang baru kami dirikan tahun 2007, mulai tahun ini akan menerapkan program ‘memperkenalkan semangat wirausaha sejak dini’. Mudah-mudahan nantinya semangat wirausaha ini bisa menjadi virus dan menyebar ke seluruh Nusantara. Semogaa……….

  3. saya sependapat dengan bapak. jangan jadikan universitas sebagai ajang berpolitik yang pada intinya bersyahwat untuk berkuasa. tapi jadikan 100%Lillahi ta’alla, untuk mencari ilmu dan bermanfaat bagi masyarakat..

  4. […] Universitas di era global, dituntut untuk menjadi mesin mencetak sosok inovator, business entrepreneur, sekaligus sosok social entrepreneur (https://mesinits.wordpress.com/2008/01/16/universitas-dan-social-entrepreneurship/). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: