mesin-its-indonesia

Bahan bakar ramah lingkungan, siapa peduli?

In IPTEK, Opini on 17/10/2007 at 08:42

Oleh:Harus Laksana Guntur
Kolom Opini harian Republika, Sabtu, 28 April 2007
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=291174&kat_id=16

Tidak ada keraguan lagi jika kita menggunakan gas sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, dunia akan menjadi lebih bersih dan hijau. Hal ini tidak seperti ketika ide tentang pemanfaatan gas alam sebagai BBG (Bahan Bakar Gas) utk pertamakalinya disuarakan. Saat ini, BBG adalah sebuah kenyataan dan telah digunakan selama beberapa tahun terakhir.

BBG yang juga sering disebut CNG (Compressed Natural Gas) dibuat dengan melakukan kompresi metana (CH4) yang diekstrak dari gas alam. CNG ini kemudian disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekan, biasanya berbentuk silinder.

Dibandingkan dengan bensin atau solar, biaya produksi BBG tidak lebih dari separuhnya. Emisi BBG juga lebih rendah dibanding BBM. Dari segi dampak lingkungan dan emisi, BBG lebih bersahabat dibanding BBM. Emisi karbon monoksida dan dioksida dari BBG berturut-turut adalah setengah dan lebih kecil 15% dari pemakaian BBM. BBG juga mengeluarkan lebih sedikit benzan, mengeluarkan 30.000 kali lebih sedikit partikel dan nitrogen oksida (Nox) daripada BBM.

Calor Automotive mengklaim bahwa perusahaan dapat menghemat running cost sampai 40% dengan menggunakan BBG sebagai bahan bakar.Dan sebetulnya semua kendaraan bermotor bisa diubah menjadi kendaraan berbahan bakar gas. Lantas, akankah BBG pada akhirnya mampu menghapus pemakain bensin dan solar? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

———

Pengisian BBG dapat dilakukan dari sistem bertekanan rendah maupun bertekanan tinggi. Perbedaannya terletak dari biaya pembangunan stasiun vs lamanya pengisian bahan bakar. Idealnya, tekanan pada jaringan pipa gas adalah 11 bar, dan agar pengisian BBG bisa berlangsung dengan cepat, diperlukan tekanan sebesar 200 bar, atau 197 atm, 197 kali tekanan udara biasa. Dengan tekanan sebesar 200 bar, pengisian BBG setara 130 liter premium dapat dilakukan dalam waktu 3-4 menit.

Tentunya penanganan BBG dengan tekanan 200 bar ini perlu dilakukan secara hati-hati. Antara lain dengan menggunakan tangki gas yang memenuhi persyaratan dan dipasang di bengkel yang direkomendasi. Tangki BBG dibuat dengan menggunakan bahan-bahan khusus yang mampu membawa BBG dengan aman. Desain terbaru tangki BBG menggunakan lapisan alumunium dengan diperkuat oleh fiberglass. Karena BBG lebih ringan dari udara, kebocoran tidak menjadi terlalu beresiko bila sirkulasi udara terjaga dengan baik. Jika gas terbakar, mesh logam atau keramik akan mencegah tangki agar tidak meledak.

Sama sekali tidak diperkenankan untuk memodifikasi tangki tersebut. Jika dilakukan, daya tahan tangki tersebut terhadap tekanan tinggi menjadi tidak terukur.Jika dianggap tangki yang dibeli volumenya terlalu kecil, lebih baik membeli tangki yang volumenya lebih besar daripada memodifikasinya sendiri.

———–

BBG saat ini menjadi salah satu bahan bakar alternatif pengganti BBM dan mulai banyak digunakan di beberapa negara termasuk Indonesia. Hampir semua taxi di Tokyo berbahan bakar gas. Di Itali, lebih dari satu juta kendaraan berbahan bakar gas, hampir setengah juta kendaraan di Australia dan 360.000 di Belanda memakai gas sebagai bahan bakar. Di Amerika latin, Argentina dan Brazil adalah dua negara dengan jumlah kendaraan pengguna BBG terbesar. Konversi ke BBG difasilitasi dengan pemberian harga yang lebih murah bila dibandingkan dengan bahan bakar cair (bensin dan solar), peralatan konversi yang dibuat lokal dan infrastruktur distribusi BBG yang terus berkembang. Sejalan dengan semakin meningkatnya harga minyak dan kesadaran lingkungan, BBG saat ini mulai digunakan juga untuk kendaraan penumpang dan truk barang berdaya ringan hingga menengah.

Di Indonesia sendiri, BBG bukanlah barang baru. Pencanangan penggunaan BBG yang harganya lebih murah dan lebih bersih lingkungan daripada bahan bakar minyak (BBM) sudah dilakukan sejak tahun 1986. Pada saat itu ditetapkan bahwa 20 persen dari armada taksi harus memakai BBG. Namun, karena pada saat itu harga BBM masih dianggap terjangkau dan stasiun pengisian BBM terdapat di mana-mana, maka minat untuk menggunakannya tidak sempat membesar.

Saat ini di Jakarta hanya terdapat 14 Stasiun Pengisi Bahan Bakar Gas (SPBG), tetapi yang berfungsi tak lebih dari enam SPBG. Untuk mendorong penggunaan BBG, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengharuskan bus TransJakarta yang melayani rute 2, rute 3, dan rute selanjutnya untuk menggunakan BBG. Akan sangat baik jika 10 sampai 15 tahun kedepan, pemerintah Indonesia mulai menerapkan pajak bagi kendaraan yang tidak bersahabat dengan lingkungan sehingga diharapkan bisa mendorong peningkatan pemakaian BBG di Indonesia dan menekan pemakaian BBM sambil mencari solusi jangka panjang pengganti BBG yang lebih bersahabat dengan lingkungan.

——–

Banyak ahli pergas-an berpendapat bahwa trend dunia saat ini menunjukkan demand terhadap penggunaan LPG sebagai bahan bakar kendaran bermotor akan meningkat dengan pesat sejalan dengan tingginya tingkat kompetisi diantara car makers dalam memproduksi engine yang lebih bersahabat dengan lingkungan.

Meningkatnya harga BBM beberapa tahun terakhir dan sempat mencapai level $80/barel karena krisis cadangan minyak dunia yang makin menipis, seharusnya membuat kita sadar akan pentingnya pemakaian BBG. Menurut data world oil fact, cadangan minyak dunia saat ini hanya 1,29 trilyun barel. Sementara konsumasi BBM dunia rata2 mencapai 28,460 milyar barel per tahun. Dalam kurun waktu tidak lebih dari 50 tahun kedepan, cadangan minyak yang ada tidak akan mampu memenuhi kebutuhan minyak dunia lagi.

Akhir2 ini, perusahaan pembuat kendaraan bermotor telah mulai memproduksi kendaraan berbahan bakar gas. Vauxhall, BMW, Mercy, Volvo, Toyota, Honda dan Ford serta car maker lainnya telah memproduksi kendaraan jenis dual-fuel (berbahan bakar ganda) dan menurut Richard Child, editor LPG World, sebuah industri newsletter terkemuka dunia, kendaraan dual-fuel mempunya performa yang tidak kalah dengan kendaraan berbahan bakar minyak.

Tetapi, banyak analis mengatakan bahwa BBG tidak lebih hanya akan menjadi menu sampingan bagi para pemakai kendaraan bermotor dan industri mobil dunia. BBG untuk pertamakalinya diperkenalkan di Australia pada sekitar tahuan 70 –an sebagai bahan bakar alternatif ketika krisis minyak mulai melanda. Tetapi, setelah hampir 30 tahun berlalu, jumlah kendaraan berbahan bakar gas masih tidak lebih dari 10% pasar otomotif dunia.

Professor Garel Rhys, yakin bahwa BBG hanya sebuah solusi sementara sebelum teknologi fuel-cell yang bekerja dengan kombinasi hydrogen dan oxygen akan menggantikannya. Hal ini mengingat cadangan gas alam yang juga tidak akan berumur lama seperti halnya minyak. BBG memang hanya akan menjadi solusi antara, bukan solusi jangka panjang.***
Info ttg penulis: http://haruslg.wordpress.com

  1. yang sebenarnya harus kita galakkan itu adalah gerakan berhemat yah pak.
    Yah memang sih penting juga memikirkan teknologi buat mencari bahan bakar jenis yang betul2 bisa terarukan
    tapi gerakan menghemat sangat perlu, karena kebiasaan boros bangsa ini sudah mendarahdaging.
    *maaf kalo OOT*

  2. Bahan bakar ramah lingkungan…, harus itu.
    Dari dulu sudah banyak disebar isunya.
    Mengingat berharganya sang “gas” di masa depan, mungkin belum terlambat kalau kita berdaya dan upaya mulai sekarang tentang bagaimana kita bisa menjadi pembuat/produsen BBG, bukan sekedar pengguna. Indonesia khan punya banyak sumber alam, termasuk gas alam. Di porong aja gas alam dibuang-buang. Kalau Indonesia bisa jadi produsen (tidak dikelola investor luar negeri), saya yakin kita semua akan lebih mudah “ramah lingkungan”. Bukan hanya bakar bakar, tetapi manusia-manusia yang ramah lingkungan akan bermunculan. Semoga.. Amin.
    *Maaf kalo “kacang”..*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: