mesin-its-indonesia

Menengok negara kaya inovasi

In Opini on 06/10/2007 at 04:00

Oleh: Harus Laksana Guntur
Kolom Opini Harian Republika, Senin 23 Juli 2007
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=300988&kat_id=16

Banyaknya masalah yang ada di negeri kita seharusnya membuat kita semakin produktif dalam menciptakan inovasi di segala bidang. Kenapa? Karena pada hakekatnya, inovasi adalah ide-ide baru yang muncul seiring dengan adanya keinginan untuk memperbaiki masalah yang ada.

Kalau kita jejer masalah yang ada di Indonesia, mulai dari sabang sampai merauke, mulai dari yang kecil sampai yang besar, saya yakin kita tidak akan mampu menghitungnya. Mulai dari masalah lumpur Sidoarjo, tsunami, banjir, sampah, beras, BBM, gempa, sampai masalah minyak goreng.Logikanya, semakin banyak masalah maka semakin meningkat pula inovasinya. Tapi, yang terjadi di Indonesia mungkin tidak demikian adanya.

Inovasi di Jepang

Dulu, Jepang adalah negera dengan banyak masalah. Perang saudara, bom atom di Hiroshima-Nagasaki, minimnya sumber daya alam, gempa, tsunami, banjir dan masalah sampah. Tapi, itu semua justru membuat Jepang bangkit dan mampu menyulap negaranya menjadi negara yang maju dalam segala bidang dan masuk dalam deretan atas negara2 super-ekonomi dunia.

Bahkan, menurut hasil survey the Economist Intelligence Unit yang dilakukan dalam rentang waktu 2002 sampai 2006, dari 82 negara dengan tingkat ekonomi yang boleh dikatakan mapan, Jepang menduduki peringkat tertinggi sebagai negara paling inovatif mengungguli USA, Swis dan Swedia dalam katagori negara paling inovatif sedunia. Jumlah paten yang diproduksi oleh sebuah negara per satu juta penduduknya dijadikan standar pengukuran. Dengan jumlah populasi yang hanya 42% dari USA, rasio paten Jepang per satu juta penduduknya tiga kali lebih tinggi dari USA-dan tertinggi bila dibandingkan negara-negara lainnya.

Pada tahun 2007 sampai 2011, hasil survey memprediksi bahwa peringkat negara innovator dunia masih tidak akan berubah. Hanya saja, Cina yang saat ini menjadi negara investor terbesar kedua dalam dunia riset setelah USA hampir bisa dipastikan akan mengalami percepatan pertumbuhan inovasi dan mengejar Jepang, USA, Swiss dan Swedia. Sementara negara2 yg tergabung dalam EU diprediksi masih akan tetap tertinggal dengan Jepang dan USA dalam kurun waktu 5 tahun kedepan walau upaya untuk meningkatkan performan inovasinya terus dilakukan.

Tingginya perhatian pemerintah Jepang yang ditunjukkan dengan investasi besar2an pada dunia riset, menjadi faktor penting dalam merangsang tumbunya inovasi di Jepang. Selain itu, negara yang miskin sumber daya alam ini telah lama menerapkan pendekatan “Inovasi atau mati” karena perekonomian jepang sangat bergantung pada inovasi dan teknologi tinggi. Faktor lainnya adalah telah terciptanya sebuah mutualism symbiotic antara perusahaan besar, perusahaan kecil menengah , akademisi dan pemerintah, ikut menjadi penentu tingginya tingkat inovasi di Jepang.

Dalam sebuah seminar di Tokyo Institute of Technology pada tanggal 21 Juni 2007, yang saya hadir didalamnya, staf ahli menteri pendidikan-perdagangan dan industri Jepang menjelaskan bahwa salah satu kunci kenapa Jepang bisa menjadi negara innovator terbesar saat ini adalah karena peran aktif dan simbiosis mutualisme yang terjalin antara pemerintah, akademisi dan dunia industri.
Hampir semua perusahaan besar di Jepang memiliki departemen R&D. Kemitraan dengan anak perusahaan, perusahan kecil dan universitas terjalin dengan baik dalam mendorong inovasi di Negara ini. Pemerintah ikut mendorong proses ini dengan menjadikan riset-riset yang bersentuhan dengan hajat hidup dan kemaslahatan orang banyak menjadi proyek negara.

Selain iklim yang sangat kondusif, motivasi akademisi dan peneliti di Jepang sangat tinggi. Hal ini bisa kita lihat dari lamanya jam kerja para akademisi Jepang, yang rata2 diatas 10jam. Kesadaran publik Jepang akan pentingnya riset dan inovasi juga sangat tinggi, dibuktikan dengan banyaknya lembaga riset swadaya masyarakat di Jepang. Ditambah lagi dengan kepekaan mereka terhadap common/global issues yang juga cukup tinggi.

Kampus-kampus di Jepang saat ini berlmba-lomba membentuk departemen kewirausahaan atau venture business yang berusaha mendorong para civitas akademika untuk berkompetisi menciptakan inovasi yang bermuara pada kreasi bidang usaha baru.

Kondisi di Indonesia

Kita tidak mungkin membandingkan dana riset Jepang dengan Indonesia. Belum terpenuhinya alokasi anggaran pendidikan nasional minimal 20 persen dari APBN berdampak pada minimnya dana riset bagi perguruan tinggi. Dana riset yang minim ini juga harus diperebutkan oleh PTN dan PTS di seluruh tanah air yang total jumlahnya mencapai ribuan.

Simbiosis dan partnership antara perguruan tinggi dengan dunia industri juga belum terjalin dengan baik. Boleh dikatakan, industri kita tidak banyak berkontribusi bagi kemajuan riset di tanah air. Mereka seolah acuh karena merasa tidak akan mendapatkan keuntungan dengan berkontribusi pada dunia riset. Para pengusaha kita juga belum terpanggil untuk ikut memajukan riset ditanah air. Yang lebih mengenaskan, perusahaan-perusahaan asing hanya menjadikan Indonesia tidak lebih dari tempat produksi tanpa mempedulikan proses transfer teknologi.

Untuk itu, leadership dari pemerintah kita menurut saya masih sangat diperlukan dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia riset di tanah air. Bila perlu, pemerintah bisa menerapkan pajak pada setiap produk untuk disumbangkan bagi perkembangan iptek ditanah air serta mewajibkan setiap perusahaan besar asing yang ada di Indonesia untuk membentuk departemen R&D juga sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap proses transfer of knowledge.

PTN dan PTS ditanah air sudah seharusnya diberi kesempatan seluas-luasnya untuk membentuk unit usaha yang bisa berfungsi sebagai tempat produksi dan komersialisasi hasil riset dan inovasi/paten mereka. Sehingga akan merangsang perguruan tinggi berlomba-lomba dalam riset, produksi inovasi dan proses pembentukan embrio bisnis baru berbasis kekuatan lokal. Pada akhirnya akan mendorong terciptanya lapangan kerja baru dan mampu menggerakkan roda perekonomian lokal dan bahkan nasional.Syukur kalau bisa berkompetisi ditingkat global.

Diakhir tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah kalimat penting yang pernah diutarakan oleh Edie Toet, yang juga Rektor Universitas Pancasila pada salah satu media cetak nasional, “Jika bangsa ini minim riset dan tertinggal di bidang pendidikan, bangsa lain yang akan mengeksploitasi segala potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di negeri ini.”***
Info ttg penulis: http://haruslg.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: