mesin-its-indonesia

OSPEK dihapuskan?

In pendidikan, Penerimaan Calon, Strategi Pembelajaran, teknik mesin on 30/07/2007 at 10:29

OPSPEK kembali berulang tahun ini. ITB sudah melarang opspek dengan kekerasan, silahkan baca di:

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/19/0701.htm

Saya jadi ingat tahun 1978 masuk ITB … disambut langsung oleh panser dan tentara karena itu adalah akhir masa DEWAN MAHASISWA, lalu ada semacam pelonco pertama. Setahun berikutnya ada lagi orientasi saat masuk jurusan Teknik Industri … semuanya enjoy saja, walau keras tapi tidak sampai ada korban.

Di ITS memang belum ada kabar sampai terjadi korban meninggal? Saya tidak tahu persis. Begitulah adanya dinamika kehidupan, patut juga dipertanyakan masih relevan kah opspek?

Kalau kita mau jujur, perhatikan tugas-tugas yang diberikan saat opspek … tampak banyak mubazir-nya. Pagi tadi sempat ngobrol dengan Denny dan Arino (kolega dosen D3 Mesin) yang bercerita bahwa untuk mahasiswa D3 Mesin – Disnaker langsung 3 hari digembleng oleh marinir di Situbondo yang didampingi oleh dosen dan mahasiswa senior? Hemat saya itu sangat bagus …. ada dokus waktu, tempat, acara, dan tujuan. Bandingkan dengan yang akan dialami mahasiswa baru ITS 2006 yang tersiksa hingga beberapa waktu ke depan ….

Saya pribadi prihatin dengan pisuan dan ucapan kasar sekaligus tindakan tidak bermoral dari para senior. Kami yang di kompleks pun sangat terganggu dengan acara mereka …. ingat tulisan tahun lalu.

Nah …. kiranya ITS yang baru harus bersikap maju dan kritis! Bagaimana dampak opspek pada psikologis mahasiswa baru, masyarakat sekitar, dan suasana akademik yang mau dibangun? Mungkin ada contoh baik yang telah dilaksanakan oleh jurusan, misalnya di TI yang sudah lebih santun dan profesional haha

Demikian …. anak saya nyantol di PENS jurusan D3 Telekomunikasi dan konon akan ada juga opspek … saya prihatin bila hanya mubazir …

Wassalam,

BUS http://bustanularifin.wordpress.com

Cukilan diskusi di milis itsnet[at]yahoogroups.com

  1. Rekan semua;

    Ternyata semua kok jadi pusing dengan program Ospek ini.

    1. Pimpinan pusing mendapat keluhan SMS dari ortu dan konfirmasi dari wartawan (kalau ada acara yang aneh). Bahkan pimpinan terpaksa harus patroli dan kurang tidur ngawasi program ini.

    2. Mahasiswa senior ketar-ketir, dihantui ancaman SK Rektor, salah sedikit saja kena sekors. Padahal mungkin karena kesulitan mengendalikan oknum mhs lain iseng, dan belum menemukan cara yang tepat menyelenggarakan OPSPEK, kecuali mengikuti tradisi yang ditinggalkan angkatan sebelumnya.

    3. Ortu-nya mhs senior juga ketar ketir, jangan-jangan gara-gara anaknya jadi pengurus himpunan, nanti bisa kena sekors. Dan itu ternyata terjadi.

    4. Orang tua maba ketir-ketir terus, karena reputasi OSPEK secara nasional belum baik, disebabkan adanya satu dua kasus negatif terekspose besaran-besaran di koran. Kekawatiran itu wajar, jangankan OSPEK, ditinggal keluarganya berangkat naik haji saja orang pada terharu menangis dan kawatir. Itu bukan karena program hajinya yang jelek tidak bermanfaat, tetapi karena terkenal berat dan rentannya terjadi kecelakaan yang mematikan waktu haji di Mekkah.

    5.. Kita semua korp ITS akan malu kalau sampai cerita aneh masuk koran. OSPEK diincar wartawan, karena yang aneh itulah yang laku untuk dijual wartawan. Ospek kampus kitapun sudah masuk koran. Kita semua tidak ingin citra negatif mencoreng ITS.

    Sementara sebetulnya banyak yang sepakat bahwa pelatihan tim-building, pendidikan soft-skill, kepemimpinan, pengkaderan berorganisasi dan pengenalan kehidupan kampus itu sangat penting bagi maba. Tinggal mencari cara yang tepat untuk menyelenggarakan hal yang bertujuan baik tadi. Diantara program pendidikan yang begitu banyak, hanya program Ospek ini yang menuai badai besar, karena manfaat dan dampak negatif dari pelaksanaannya masih kontroversi. Yang jadi korban terparah sebetulnya mahasiswa senior/himpunan. Sebelas orang di sekors 1 semester. Dibanding dengan pekerjaan dosen, pekerjaan mhs senior/himpunan terbukti lebih berat dan lebih berbahaya. Mendidik sepanjang tahun, bertahun-tahun, tidak ada dosen yang kena sekors. Ini mhs senior, mendidik softskill selama 4 hari saja yang kena sekors 11 orang. Betapa berat dan berbahayanya jadi senior/himpunan.

    Mencari format pengkaderan kepemimpinan, softskill, tim building dsb di atas perlu segera ditemukan kalau tidak ingin korban-korban berikutnya berjatuhan. Ini tanggung jawab pendidik, kita-kita ini untuk merumuskan. Kalau toh nanti pelaksanaannya oleh atau dibantu himpunan, tidak ada masalah. Yang pasti perlu dirumuskan format baru untuk menghindari korban-korban sekors dan berita bercitra negatif di koran.

    Beberapa orang pengurus BEM/Himpunan UGM pernah diajak oleh mentornya (psikolog-2 yang ahli pendidikan dan training) ke Malaysia dan Singapura, untuk melihat bagaimana pelaksanaan Inisiasi kehidupan kampus bagi Maba disana. Setelah pulang, dengan mendapat bimbingan dari mentor-nya, mereka (BEM/Himpunan) membuat program orientasi yang efektif dan modern, dan dilaksanakan sekarang ini.

    Di ITS ada P3AI, ada SAC ada Bidang 3, dan ada BEM/Himpunan, yang punya kompetensi untuk merumuskan format Ospek yang bermanfaat bagi maba, tidak membahayakan pelaksana/himpunan, tidak mengkawatirkan orang tua, dan tidak rawan masuk koran dan mencitrakan negatif ITS. Karena manfaat soft-skill itu jelas diakui, sudah waktunya semua yang terkait untuk duduk bersama dan get serious.

    Salam

    Sudiyono Kromodihardjo

  2. Saya pekan lalu mendapat kesempatan mengikuti kegiatan Team Building (baca juga Social Sience) di sebuah pulau kecil di dekat P. Penang bersama-sama karyawan perusahaan tempat saya magang Bosch Malaysia. Team Building ini merupakan suatu pelatihan reguler perusahaan untuk meningkatkan kerjasama karyawan di alam bebas. Di Indonesia kegiatan ini mungkin di kenal dengan Outbound. Saya melihat banyak manfaatnya baik secara individu maupun teamwork.

    Terkait dengan MOS mahasiswa baru, mungkin kegiatan semacam ini dapat diterapkan di kampus dengan peralatan yang cukup simpel dan relatif murah. Mungkin ITS bisa membangun prasarananya di lapangan yang ada. Saya punya beberapa foto fasilita dan contoh aktivitas2nya. Saya sedang berusaha mendapatkan materi lengkapnya.

    Salam

    doddy – KL

  3. Agaknya, semua ini tergantung pada keberanian pimpinan ITS untuk menghentikan sama sekali OMB oleh mahasiswa (bukan berarti mengekor ITB lho), biar nggak ada agenda rutin tahunan yang membuang waktu dan energi yang belum jelas manfaatnya. Mahasiswa adalah “bahan baku” dari proses pendidikan, nah bahan baku sudah semestinya taat pada semua keputusan yang dirancang oleh Produsennya.

    Salam
    asal usul.
    Agus TL

  4. Dear all,

    Setiap tahun kita bersilang pendapat tentang OSPEK di kampus kita, tentunya dengan bermacam nama, bermacam pendapat, tetapi yangkebanyakan dari kita berpendapat bahwa apa yang dilakukan para senior initerhadap adik-adiknya adalah mubazir.

    Dalam hati saya timbul pertanyaan : apakah kita ini bukan senior dari senior yang sekarang ini ? tentunya kita punya kontribusimenurunkan tingkah laku tersebut.

    Yang menjadi sorotan agaknya, terlihat para mahasiswa baru selaludiakhir pekan sampai malam-malam masih bergerombol di satu tempat, apakah itu di kompleks perumahan its, atau di sekitarnya. mereka mungkin parkir semaunya atau kehabisan tempat, masih ada aktifitas sampai lewat malam hingga mengganggu kesunyian malam, yang secara keseluruhan ujung-ujungnya mengganggu lingkungan.

    Usul saya (asal usul ) : bagaimana kalau ospek (atau apalahnamanya) itu sekalian saja diadakan 3 – 5 hari dari pagi sampai pagi lagi dansemuanya di dalam kampus (lingkungan perkantoran/perkuliahan), sehingga tidakakan mengganggu ke lingkungannya. Hanya saja, sekarang PR III besertasemua perangkatnya tidak bisa tidur seminggu, tapi kan lebih baikdaripada sekomplek orang tidak bisa tidur…

    Yah, namanya asl usul, bisa diterima bisa tidak. salam,

    hidup its.
    perry burhan

  5. Rekan semua,

    Yang disinyalir Pak Perry, sangat benar, kita banyak melihat sendiri. SK Rektor yang merinci begitu rinci aturan opspek sering tidak diacuhkan oleh mahasiswa senior. Ngontrol juga sulit, soalnya mereka malakukannya juga bisa ndelik-ndelik. Maba biasa dibujuki, ditakut-takuti, kalau tidak mengikuti program, nantinya bisa sulit, di lab sulit, dijauhi mhs senior (di-seteru), apa-apa tidak dibantu dsb. Maba yang belum tahu medan, orang baru, dan masih sendirian (belum punya teman/kenalan) jadi amat lemah posisinya. Atributnya pun dibuat beda dan agak rendah derajatnya, harus gundul, harus seragam, harus apalagi. Tanpa pengendalian yang ketat, tanpa mendapat perlindungan dari siapa-siapa, maka maba yang masih linglung masuk lingkungan baru ini, sangat rentan untuk dijadikan hiburan mainan oleh seniornya. Betul- betul sangat rentan. Karena tidak ada SOP yang jelas, kreatifitas senior diberbagai jurusan juga sangat bervariasi dalam menikmati hiburannya.

    Dosen yang jelas punya kompetensi ilmu, hak untuk mengajar, dan dipercaya sama ortu-nya maba saja masih harus pakai aturan, rancangan pembelajaran, SAP dan di evaluasi oleh mahasiswa di akhir semester. Lha pendidikan yang diberikan ke mhs senior ke maba itu untuk mengisi kompetensi apa, dikendalikan pakai apa, dan bagaimana melaksanakannya. Metode apa yang dipakai, dan asesmennya bagaimana.

    Kita jadi perlu bertanya, bertambah mutukah mahasiwa kita setelah melewati OPSPEK?

    Ilmu apanya yang tambah? Jangan-jangan ilmu misuh surabayan yang didapat. Atau budaya Bonek supporter Sby yang didapat?

    Habis diajari hal baik-baik dengan cara yang santun di ESQ, kemudian diakhiri dengan bentakan, pisuhan, push-up, intimidasi di himpunan. Wah..emann. Yang maba diajari untuk totally surrender, takluk, taat sepenuhnya ke senior. Yang senior belajar teknik menguasai, meng-intimidasi dan menjadi otoriter. Kayak jaman ORBA saja.

    Kampus yang berfikiran maju, baik negeri maupun swasta, sudah banyak yang meninggalkan OPSPEK gaya lama yang kasar, intimidasi, penuh pressure, meng-ada-ada, tidak jelas tujuan dan metodanya, dan pasti tidak menghasilkan mahasiswa yang kreatif, inovatif, critis.

    Saya kawatir ITS tercinta yang semakin bagus citranya ini masih dipersimpangan jalan, disatu sisi ingin internationally recognized, ingin quality-nya assured, tapi masih ada cara-cara kuno, ndesit, yang berlangsung didepan kita yang punya otoritas mendidik.

    Wassalam
    Sudiyono Kromodihardjo
    PJM

  6. Ass,…

    Memang mendengar kata Ospek atau OMB atau perploncoan merupakan hal yang sangat tidak enak ditelinga Bapak/Ibu yang putra atau putrinya menjadi Maba. Tetapi belum tentu hal yang sama dirasakan oleh putra atau putri anda. Karena ada juga Maba yang memang senang dikasih tugas yang aneh- aneh dalam OMB. Aneh juga ya, disuruh yang aneh-aneh, bikin cemas orang tua, malahan ada yang bisa menikmati. Jangan-jangan ini merupakan fenomena bagi generasi baru bangsa ini, dimana mereka sangat menikmati sebuah penderitaan. Yang konon menurut mereka merupakan pengalaman baru dan merupakan tantangan dalam hidup. Mungkin kita ini yang sudah terlalu tua sehingga tidak bisa mengikuti kemauan pikiran anak muda….(smile)

    Dulu sewaktu saya masih mahasiswa S1, memang rasanya senang banget kalau bisa bikin penasaran pihak Jurusan. Dan waktu ada mahasiswa baru memang merupakan kesempatan untuk “pamer abab” alias “nggedabrus”. Lha kapan lagi ngomong didengar orang banyak…., lha wong utek ya pas-pasan, prestasi ya nggak ada. Bondho gak onok, wajah nggak mendukung blas. Dengan dalih pengkaderan, atau mendidik agar adik kelas menjadi orang yang kuat, dsb.

    Mengapa begitu? Habis stress sih,… Kuliah yo tambah gak jadi pinter, pusing kena rumus melulu…Pegang alat praktikum saja susahnya setengat mati, itupun dibentaki sama asisten yang sebenarnya juga sama gemblungnya. Kondisi ini memang cukup representatif bagi kebanyakan mahasiswa senior seangkatan saya yang sama-sama aktif di himpunan, rata-rata kami berpenyakit sama. “Mahasiswa stresss”….dengan IP dua-koma-sembilan……belas. Makanya siapa lagi kalau bukan mahasiswa baru (Maba) yang jadi sasaran.

    Rupanya penyakit ini menurun dari angkatan satu ke angkatan berikutnya, dan demikianlah seterusnya. Semoga saja adik-adik aktifis sekarang ini tidak seperti saya dulu. Sebab kelihatannya mereka memiliki sifat dasar yang berbeda. Dulu kami nggak ada pikiran bakar kotak suara atau turunkan bendera. Tetapi kalau berkelahi waktu pertandingan antar jurusan, bolehlah. Walaupun lebih sering kalahnya dibanding menang..(smile). Mungkin sekarang ini ada kemajuan, berani protes ke rektorat atau demo di jalanan.

    BTW Untuk acara OMB di PENS, insya Alloh kami punya pola yang sedikit beda dengan di fakultas lain di ITS. Kami terapkan 3-0. Cukup nggak cukup ya cuma 3 hari. Toh yang butuh OMB adalah para mahasiswa senior, bukan mahasiswa baru. Lha wong pingin kenal sama adik kelasnya kok nggak boleh….(smile)

    Wasalam,
    Tri Budi Gemantul

  7. ah..tenang sajalah..
    gitu aja koq repot (kata Gus Pur)

    Bubarin aja pengkaderan, kalo rektorat maunya gitu, biarin aja ntar rektorat pusing sendiri, karena yang dipimpinnya bukan lagi manusia mahasiswa, tapi robot yang berbentuk mahasiswa.

    sepakat, pak Rektor??

    Terima kasih

    salam,
    widitama

  8. Dari berita utama di ITS Online

    http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=3862

    meski saya tidak hadir lansung, mungkin saya bisa mereka-reka bahwa pengkaderan ke-depan masih belum terjadi perubahan apa-apa.

    Mahasiswa / senior penuh curiga kepada (pejabat-penguasa, istilah mahasiswa) rektorat dengan adanyapembatasan-pembatasan yang ada. Coba lihat pula komentar mas Widitama di depan.

    Rektorat / dosen setengah hati untuk menelaah dengan serius mengenai pengkaderan.

    Calon mahasiswa bersiap-siap pula dengan berbagai strategi untuk mensiasati pengkaderan yang tidak mereka sukai.

    Kenapa ya?
    Kalau saya punya kesempatan dan diajak berembuk, rasanya saya punya jalan yang bisa tidak sulit untuk dicoba.

    Sekarang saya cuman bisa berharap saja deh.

  9. gak usa tiru2 ITB lah,,,

    ini ITS
    orang yg su’udhon doang yg gk se7 pengkaderan…

  10. sepakat dengan pak budi…

    bukan pengkaderan yang dihapuskan, tetapi konsepnya saja yang perlu dirubah. Untuk masa jaman jahiliyah seperti dahulu, sebelum 7tahun terakhir, memang masih ada pengkaderan mode : must surrender, banzai, fisik, bentakan, full pressing…
    memang terbukti efektif, tapi untuk masa lalu saja…

    dengan seiring prkembangan jaman, upgrade softskill ttep n masih wajib tuk dilakukan. hanya saja sekarang cara yang digunakan ada yang lebih efektif, yaitu dengan pelatihan semacam outbond indoor dan outdoor training. dengan tujuan membentuk kepribadian yang kuat, leadership, juga team work ability. kampus yang memulai untuk mengaplikasikan cara2 seperti ini adalah kampus unair. dan penggagas sekaligus penyelenggara kegiatan tersebut adalah alumni lulusan ITS, yang notabene dulunya juga pernah mengalami pengkaderan masa2 jahiliyah.

    dengan outbond training, manfaat yang dirasakan oleh penggembleng dan yang digembleng lebih bisa dirasakan dan lebih lama lifetimenya. tujuan untuk saling mengenal pun juga bisa tercapai melalui cara spt ini.

    hanya saja…
    setelah unair, kapan ITS bisa mengikuti jejak langkah yang bagus ini. terutama teknik Mesin yang tercinta ini…?

  11. Saya sebagai menteri PSDM BELM FTSP ITS tidak akan sepakat jika pengkaderan di ITS dihapuskan karena ini menyangkut permasalaan kedepan tentang kegiatan maupun arah kebijakan yang diambil oleh badan ormawa ITS, ketika kita sudah mempunyai konsep pengkaderan yang jelas dan tertata rapi apapun itu bentuknya pastilah akan terkoordinir dan menghasilkan bibit yang unggul..
    sekarang pertanyaan nya apakah ” kita ” sudah menjalankan dengan baik konsep tersebut ??
    Kalau permasalahan rektorat kayaknya kita mahasiswa terlalu bodoh untuk terus ditekan dan diawasi, mahasiswa koyok arek cilik lak an, makane iku yo opo carane kon tetep enjoy n rektorakpun tetap enjoy, kekerasan bukan khir dari perjuangan peraturan
    Why not, BEM sebagai eksekutif pusat kampus sudah mengaturnya tapi pada saat ini belum ada satupun BEM disetiap kampus yang langsung dapat mengatur dengan baik konsep global untuk setiap himpunannya mungkin dengan pertimbangan himpunan dapat mengatunya sendiri tapi apakah sedemikian baiknya ketika dibelakangnya ada permasalahan!! dimana posisi BEM dan dimana posisi Himpunan, jadi semuanya adalah permasalahan kompleks cuk
    Dimana tidak ada lagi ruang untuk bernafas, maka dari itu kita harus bertindak
    Vivat ITS
    Vivat Mahasiswa

  12. Ospeknnya d3 Mesin ITS-disnaker memang top, boleh dicontoh rek !

  13. kekerasan memang identik dengan adanya ospek apalagi di T.mesin yg konon memeng udah membudaya disana. tapi ternyata ospek yang keras memiliki manfaat tersendiri bagi mhsiswa yg dah lolos proses itu. qta kan tau moto Solidarity Forever nya T.Mesin . dan ternyata ospek itu benar-benar bisa membuat mhsiswa memahami moto itu dengan baik dan memberikan suatu rasa bangga bagi yang telah melalui proses ospek yang notabene keras itu. trus klo ospek yg keras itu ga ada trus gmn cara untuk membuat mahasiswa itu benar-benar mengerti dan bisa menjalankan moto itu. pengalaman di tempat lain yg udah ga pake OSPEK, maysarakatnya jadi individual banget????

  14. saya mengunjungi blog ini cari bahan buat lomba debat bagi murid saya, kasih izin ya…

    thank
    marjohan
    http://penulisbatusangkar.blogspot.com

  15. PENGKADERAN ITS PA LAGI D3MITS PUALENG SUIIPPPPPPPP!!!!!!! Q DAH NGERASAIN, HIDUP ADALAH PERJUANGAN BOSSSS!!!!!MENTAL INDONESIA RUSAK TUH GARA2 JAMAN SEKARANG DAH GA ADA PROSES KADERISASI YANG BERMUTU!!!!! PENGEN NGERASAIN HIDUP “PERJUANGAN” YA KULIAH DI ITS, KLO’ PENGEN YANG LEBIH HEBAT KULIAH DI D3 MESIN ITS (DEMITS), SAYA YAKIN KOMPERADOR,KAPITALIS,KOMUNISI,NDIVIDUALIS,BORJUIS PASTI MATIII!!!!

  16. Saya hanya ingin memberikan saran terutama untuk adik2ku di D3MESIN (DEMITS) dari awal istilah DEMITS sangat menyakitkan hati saya ketika mengikuti pengkaderan diawal tahun 1996 yang lalu. Tak terasa memang 12 tahun telah berlalu sistem pengkaderan masih menonjolkan kekerasan fisik dan bukan menggunakan hasil kerja otak sebagai landasan dasar orang berilmu. Akhirnya pengkaderan hanya sebagai ajang balas dendam turun – temurun. Kalau mau contoh fisik sekalian saja dilatih sama tentara angkat senjata latihan perang (latsar) sehingga bener2 berkualitas bukan hanya ajang pelampiasan dendam tujuh turunan belaka. Semoga menjadi pencerahan bagi semuanya..

  17. saya mahasiswa d3 mesin disnaker.. dan tahun kemarin saya ikut acara ospek anak disnaker sebagai mahasiswa senior yg diadakan di puslatpur purboyo malang.. beserta marinir,dosen,dan mahasiswa senior lainnya.. sebenarx namax bukan ospek tapi FMD (fisik mental disiplin).. dan menurut saya itu lebih efisien dibandingkan ospek. tahun kemarin sebenarx kami mengundang sepuluh kahima FTI its. tapi yg bisa memenuhi undangan tersebut cuma kahima demit.. yg lainx gak tau knpa bisa gak ikut. pdahal kami berkeinginan supaya FMD ini bisa dijadikan contoh yg baik buat penerimaan mahasiswa baru di its.. tujuanx supaya nantinya bisa diberlakukan disemua jurusan di its.. disana mahasiswa digenjot fisik mental dan disiplin mereka selama 3 hari.. disertai juga dgn outbond2 tentux.. tujuan dri FMD ini adalah untuk menjadikan mahasiswa yg siap menghadapi kerasx dunia kampus dan dunia kehidupan mereka tentunya.. apalgi mahasiswa disnaker mempunyai jadwal yg sangat padat pada saat kuliah.. disamping harus kuliah di its mereka juga kuliah di BLKIP disnaker surabaya.. dgn adax FMD ini diharapkan mhasiswa mempunyai mental baja dan disiplin yg kuat untuk menjalani kuliahx.. dan saya rasa program ini bisa dikatakan berhasil.. krna saya liat mhasiswa disnaker walaupun dgn jadwal yg begitu padat tapi mereka masih bisa mengatur waktu mereka.. bayangkan saja jam 6 pagi mereka harus sudah di BLK yg terletak didekat bundaran waru untuk mengikuti apel pagi. disana mereka sampe jam 12 siang.. setelah itu mereka kembali ke its untuk kuliah lagi sampe jam 6 sore.. tentu saja ini sangat menguras tenaga.. tetapi saya liat mereka masih selalu semangat untuk menjalanix. mungkin ini efek dari kegiatan FMD tersebut.. saya harap kegiatan FMD ini tahun depan bisa dijadikan contoh disemua jurusan di its.. dan tidak menutup kemungkinan kegiatan ini akan diberlakukan untuk semua jurusan di its ditahun2 berikutx..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: