mesin-its-indonesia

Strategi Studi Kasus

In kurikulum, pendidikan, Strategi Pembelajaran, teknik mesin on 01/06/2007 at 00:00

Dear all,

Sekedar sharing nih… (Strategi Pembelajaran)

Saya pernah berdiskusi dengan seorang mech engineer lulusan Irlandia, setelah lulus dia bekerja di GE, setelah mendapatkan ilmunya dia bersama teman2 membentuk perusahaan engineering yang spesialisasi. Sekarang perusahaan tersebut menjadi salah satu rival GE yang diperhitungkan.

Saya bertanya mengenai kurikulum dan cara dia belajar. Ternyata ilmu yang dipelajari tidak kompleks2 amat alias simple.

Pada saat awal memulai mata kuliah baru, mahasiswa diberikan wawasan mengenai ilmu yang akan dipelajari secara komprehensif, seperti bagaimana aplikasinya di lapangan, bagaimana pengembangan2nya, bagaimana teknologi terakhir yang ada berkaitan dengan mata kuliah tersebut. Sehingga mahasiswa benar2 tahu arah tujuan kemana ia akan mengembangkan ilmunya tersebut. Juga mahasiswa paham dan mengerti ilmunya akan dipakai dimana.

Setelah diberikan wawasannya, mahasiswa dibekali dengan basic / prinsip2 ilmunya, setelah para dosen yakin bahwa mahasiswa memiliki basic yang kuat, baru kemudian diberikan pengembangan2nya.

Mahasiswa juga selalu di-encourage / diberikan semangat, dengan cara meyakinkan mahasiswa bahwa matakuliah tersebut sangat menarik dan akan sangat terpakai di lapangan.

Cara penyampaian yang menarik seperti studi kasus, simulasi, pemutaran film yang berhubungan dengan materi, kemudian setelah itu dibentuk kelompok2 diskusi untuk membahas studi kasus, film & simulasi, membuat mahasiswa lebih enjoy dalam belajar , mahasiswa lebih cepat memahami materi, studi kasus (berdasarkan masalah yang riil terjadi dilapangan) membuat mahasiswa lebih tertantang dalam mengeluarkan ide-idenya. Hal ini akan membuat mahasiswa bukan hanya jago teori, tetapi juga jago memberikan solusi dilapangan (jago dalam aplikasi) dan juga jago berkreasi.

Studi kasus juga akan membuat mahasiswa kaya akan soft skill, karena ia harus berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain, dan studi kasus akan membuat mahasiswa tidak hanya membatasi diri pada ilmunya.

Sebagai contoh bila mahasiswa diberikan studi kasus mengenai kegagalan proyek. Mahasiswa tidak hanya berfikir untuk solusi secara engineering saja, tetapi juga akan memikirkan proyek tersebut dari sisi finansial, SDM, komunitas, etika, undang2, dampak lingkungan dsb, walaupun dari sisi selain engineering tidak dibahas secara mendalam.

Seringkali tes masuk kerja di perusahaan2 multinasional menggunakan studi kasus. Penglaman2 studi kasus yang didapat sebelumnya bisa menjadi bekal yang baik, baik saat tes maupun saat kerja.

Jadi intinya: 1. Basic / prinsip2 ilmu harus kuat 2. Diberikan wawasan mengenai matakuliah yang akan dipelajari 3. Diberikan semangat 4. Penyampaian mata kuliah dikemas secara menarik. 5. Studi kasus (berdasarkan masalah yang riil terjadi dilapangan)

Mudah2an masukan diatas bisa menjadi kontribusi yang baik. Terimakasih.

Salam Hangat, Santo M39

  1. (terkait juga dengan
    https://mesinits.wordpress.com/2007/05/25/usulan-awal/#comment-47)

    Teman2 semuanya, Saya mengomentari soal gambar.

    Beberapa perguruan tinggi ternama memiliki kurikulum gambar yang sudah baik dan modern. Kita tinggal contoh saja. MIT misalnya, mahasiswa diberi benda kerja yang harus diskets dengan tangan termasuk potongan dan pandangan yang diperlukan. Skets ini kemudian diasistensikan, jika benar maka kemudian digambar pakai CAD. Jadi gambar tangan tetap ada tapi sifatnya adalah untuk membuat mahasiswa mengerti prinsip gambar, bukan melatih ketrampilan dan kerajinannya.

    Ketrampilan menggambar tangan mungkin sudah tidak relevan lagi sekarang, lebih penting ketrampilan mengoperasikan CAD. Kerajian gambar tangan juga tidak relevan karena printer pasti lebih baik dari itu.

    Salam,
    Witantyo, witantyo[at]me.its.ac.id

  2. Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 5 Juli 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, sistem ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: