mesin-its-indonesia

Reengineering PT

In Kompetensi Dosen, pendidikan, Sistem Pendukung, teknik mesin on 31/05/2007 at 00:00

Apa kabar Cak Julendra ?

Terima kasih, atas info bedah SDM anda (dan mungkin info yang lain Kurikulum, Strategi).

Saya pikir “hanya perguruan tinggi yang sehat, yang dapat menjadi perguruan tinggi yang bermutu” Di Indonesia konon tercatat 82 PTN dan 2670 PTS nah yang sehat kemungkinan hanya satu digit, atau paling dua digitlah. Sehat dan tidak sehat, dengan salah satu ukuran bagi suatu lembaga adalah “kinerja keuangannya”. baik yang berorientasi laba maupun yang nirlaba.

Coba kita benchmark dengan PTN dan PTS diluar negeri / dalam negeri;

Sumber pendapatan:
University of California, Los Angeles:
sumber pendapatannya dari mahasiswa (SPP) 9%;
Kontrak riset dg pemerintah 40% non pemerintah 7%
dan pelayanan publik (LPM) 42%

University of London:
dari mahasiswa (SPP) 4%
Kontrak riset dg pemerintah 14% dan non pemerintah 2%
dan LPM 36%

University of of Yale (PTS):
pendapatan dari SPP 15%
dari Dana Abadi (Yayasan) 25%
Kontrak riset dari pemerintah 28% non pemerintah 7%
dan LPM 19%

Universitas Swasta terkenal di Jakarta;
dari SPP 78%
Dana abadi 8%
Kontrak riset dg pemerintah 0% non pemerintah 2%
LPM 11%

PTS Indonesia contoh komersialisasi kampus yang salah, dimana mahasiswa menjadi tumpuan utama sumber pendapatan, bahkan yayasan yang semestinya memberi sumbangan kepada kampus justru sebaliknya kampus di eksploatasi sebagai pendapatan yayasan.

Oleh karena itu BHP mensyaratkan pemisahan badan hukum antara kampus dan yayasan, kalau tidak aliran dana PHK (kontrak riset dengan pemerintah) bukan untuk kampus tetapi justru mengalir untuk yayasan 
ITS kalau gak salah bakal dapat PHK sekitar 25 – 30 M,  ya ???

Pengeluaran:
UCLA: belajar / mengajar 40% Riset 24% LPM 2%
London: belajar / mengajar 21% Riset 18% LPM 8%
Yale: belajar / mengajar 28% Riset 20% LPM 6%
PTS JKT: belajar / mengajar 40% Riset 15% LPM 4%

Data-2 financial report 2000/2001

Dapat disimpulkan yang perlu diperbaiki PTN/PTS Indonesia adalah dalam menjalankan misi “Tridharma Perguruan Tinggi”
Bagaimana sumber pendapatan dapat digeser titik beratnya tidak lagi pada SPP, tetapi lebih diutamakan kepada kontrak riset dan pengabdian masyarakat, untuk itu nilai tambahnya (nilai kontrak riset – biaya riset) atau (nilai kontrak LPM – biaya LPM) cukup besar .

Juga perlu sosialisasi kepada Mahasiswa dan masyarakat bahwa komersialisasi kampus itu tidak identik dengan SPP mahal, justru ditekankan kepada upaya penggalian sumber pendanaan lain-2 agar SPP bisa turun bahkan minimal.

Kembali kepada bedah SDM Jurusan T. Mesin
Bedah SDM anda masih belum ada benang merah yang nyambung kepada “financial strategic” sebagaimana saya sampaikan diatas.

  1. 40 jam kerja per minggu 20 jam untuk ngajar / bimbingan, dan 20 jam untuk nulis (riset / publikasi) saya pikir porsi untuk riset cukup atau kebanyakan ? sementara untuk LPM tidak ada alokasinya.
    Beberapa waktu yang lalu, kalau gak salah ada “sarasehan” soal  “dosen mroyek” yang nadanya negatif, padahal menurut saya justru harus di tingkatkan tetapi bukan untuk pendapatan individu, tetapi untuk pendapatan lembaga, agar SPP bisa lebih murah lagi.
  2. Kalau anda sebut jumlah dosen +/- 60 orang, bagaimana load factornya ? (mungkin penjelasan anda belum rinci)
    jumlah SKS antara 144 – 160 per program studi (standar)
    Kapasitas ngajar 4 SKS reguler dan 3 Ekstensi ( ada 2 kelas paralel ?) total 7 SKS
    Secara matematis jumlah dosen cukup 160 SKS / 7 SKS = 23 orang.
    Ada yang belum anda jelaskan bahwa setiap mata kuliah diperlukan 2 dosen (peer group) maka kebutuhan dosen menjadi 46. Tetapi sering dalam diskusi yang saya tangkap, bahwa waktu yang ada itu habis untuk pembelajaran. Mestinya PT itu tidak boleh melupakan riset dan kemudian dikomersialkan menjadi LPM.
  3. Apa yang terjadi di PTS yang tidak sehat, kondisinya seperti bumi dengan langit
    Jumlah Dosen tetap hanya 5-10 orang.
    Selebihnya honorer Rp (25 – 50) per mata kuliah dan sering secara mendadak pergi tanpa pamit, akibatnya konsistensi perkuliahan juga terganggu (memang hanya itu kemampuannya). Jumlah mahasiswa sedikit (tidak memadai / tidak mencapai BEP) SPP Rp 100 000 per bulan.
    Dengan SDM yang kurang seperti itu jelas pendapatan dari riset dan LPM pasti sulit diharapkan.

Sangat beralasan bahwa PTS yang sakit justru akan sulit dapat PHK. Kalau kondisi yang tidak sehat seperti itu (bagi kebayakan PTS), apa mungkin untuk dipertahankan, apalagi diperbaiki mutunya ? Saya kira tidak ada jalan lain kecuali “reengineering” agar PTS mencapai BEP (jumlah mahasiswa dan dosen memadai untuk misi tridharma.
 
Salam
Soekarsono H (M-5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: