mesin-its-indonesia

Strategi Pembelajaran

In Karakter Pelajar, Kompetensi Dosen, pendidikan, Strategi Pembelajaran, teknik mesin on 30/05/2007 at 00:00

Mohon koreksi, terima kasih. << Bagaimana Caranya?

Hasil akhir dari PT salah satunya adalah lulusan yang mumpuni. Ini saya terjemahkan: – menguasai (secara umum) ilmu dasar keteknikannya; – menguasai kemampuan nonteknis (saya sempitkan lagi menjadi kemampuan belajar dan berkreasi).

Kemampuan teknis terperikan dalam kurikulum materi kuliah, dan sangat bergantung pada kompetensi pengajarnya (kedalaman dan keluasannya). Tapi tetap untuk S1 kemampuan ini dibatasi pada level dasar dan aplikatif (sekedar mengenal dan menggunakan).

———-

Kemampuan nonteknis saya utamakan: kemampuan belajar, dan kemampuan berkreasi. Kemampuan belajar dan berkreasi sebenarnya bisa kita satukan manjadi kemampuan kreasi-belajar. Kemampuan ini penting karena merupakan kompetensi strategis. Pembinaan kemampuan ini sebenarnya jatah sebelum masuk PT, tapi kita terpaksa juga ikut membinanya. Tanpa kemampuan ini maka tidak ada proses belajar & kreasi tapi hanya menjiplak/menghafal. Ciri-cirinya: tidak punya konsep jelas, sulit adaptasi, motivasinya artificial.

Proses kreasi-belajar secara singkat terdiri dari empat tahap: mengakses-membangun-merumuskan-mencoba. Artinya proses belajar beda dengan hasil belajar. Titik beratnya pada perubahan nilai bukan pada nilai yang diketahui.

Sebagai contoh: model Finlandia itu saya kira berbasis pada proses belajar. Dan mereka memutuskan untuk menggunakan metode ini adalah hasil dari penelitian panjang (1 generasi).

———–

Sementara itu, raw-material (siswa masuk) kita boleh dikata belum terlatih atas kemampuan kreasi-belajar ini. Meski kita percaya mereka sebenarnya sudah cukup cerdas untuk mengetahuinya (bukti: juara internasional).

Jadi saya percaya, hanya dengan cukup berlatih singkat yang efektif maka mereka sudah punya bekal PD untuk kreasi-belajar. Tidak perlu merubah budaya, tapi cukup berlatih untuk merubah nilai yang dianutnya dan membuktikannya. Pada semester 1-2 adalah waktu yang tepat.

Dalam Statika Struktur, siswa (bekal Fisika SMA) biasa melihat bahwa benda setimbang pada arah linear. Tunjukkan kasus jungkat-jungkit. Biarkan mereka berpikir bahwa kesetimbangangan linier tidak cukup. Biarkan mereka berpendapat seluas-luasnya mengenai kesetimbangan. Lalu secara perlahan tunjukkan adanya kesetimbangan momen. Biarkan mereka untuk merubah sendiri pemahaman/nilai yang mereka anut sebelumnya, suruh mereka utarakan. Diskusikan dan tarik kesimpulan umum. Intinya biarkan mereka bersiap, merasakan, dan memahami untuk merubah nilai yang dianutnya. Sisa kuliah, contoh-contoh latihan yang diselipkan beberapa konsepnya.

Ujian konvensional bisa tetap dianut untuk melihat derajat pengetahuan mereka. Disamping itu dosen dibantu tim-mutu mencoba MEMBUAT EVALUASI terhadap kemampuan kreasi-belajar mereka. Nilai ini juga mempengaruhi sekian persen dari nilai total.

————

Salah satu yang diperlukan untuk membangkitkan kemampuan nonteknis ini adalah motivasi siswa. Karena itu perlu bagi dosen untuk selalu menggunakan strategi transformasional, bukan transaksional. Artinya jangan hanya tunjukkan bahwa kalo siswa sudah menguasai ini maka nilai ujiannya akan A, tapi mulailah :

  • membangun KEYAKINAN bahwa yakinlah ini bisa siswa dapat;
  • meningkatkan KEBUTUHAN/PERAN, bahwa ada hal-hal lain yang bisa siswa peroleh;
  • mendorong KETERTARIKAN, tunjuki dengan hal-hal yang sungguh membuat tertarik.

Tim Mutu, silakan bantu membuat monitor proses kreasi-belajar ini, sehingga kita akan selalu bisa menyesuaikan strategi pengajaran dengan kebutuhan yang ada berdasar data-data, bukan bualan belaka. (seperti sekarang…?)

JB Ariatedja, ariatedja[at]me.its.ac.id
http://its.ac.id/personal/ariatedja http://julendra.wordpress.com

  1. Cak Julendra Yth, Saya tambahi:

    Setiap orang kalau lapar mesti makan (itu termasuk “insting”) meskipun tidak pernah diberitahu / diajari. Tetapi bagaimana cara / perilaku untuk makan, itu tergantung dari tingkat “pengetahuan” yang pernah dipelajarai / diajari Kelompok masyarakat didaerah tertinggal cara / perilakunya untuk makan tentu lebih sederhana dibanding dengan kelompok masyarakat yang telah maju.

    Nah analog: Kalau begitu tentu harus ada bedanya perilaku / cara berhitung antara murid SMP, SMU dan Mahasiswa. Yantu, semakin canggih ilmu pengetahuan yang diperoleh, hasil olah pikirnya semakain kecil nilai uncertainty = ketidak pastiannya, atau semakin akurat dan presisi. Itu tentu terjadi karena ada perubahan dalam cara / perilaku berhitung tadi. Misalnya: perilaku dalam berpikir; analisis semakin canggih, pelaksanaannya semakin sistematis dan terstrukltur d.s.t. Itu kan yang diharapkan terjadi pada lulusan perguruan tinggi.

    Namun kalau kita lihat apa yang terjadi didalam realita: Mahasiswa (mudah-2an tidak di ITS) belum menunjukan kelebihan signifikan dalam “olah otak”, justru yang menonjol adalah “olah otot”, terbukti dengan banyaknya sikap-2 yang emosional sampai kepada tindak kekerasan.

    Dimana letak kekurangannya dalam penyelenggaraan pendidikan ini ? Di Amrik tempo dulu juga terjadi hal yang serupa, dan yang disalahkan pendidikan di SMU nya Di Indonesia juga ikut-ikutan niru-2 nyalahkan pendidikan di SMU, apalagi evaluasi hanya dengan UNAS / SPMB misalnya Padahal perilaku yang diperlukan di SMP – SMU dan PT itu beda banget. Oleh karena itu “iklim akademik” sangat penting dalam menunjang mutu akademik. Jangan-2 kita baru melaksanakan pembelajaran, belum melakukan pendidikan.

    Sebuah pertanyaan yang segera harus dijawab oleh civitas akademika; Kalau calon aparat (ABRI) dimasukkan kedalam asrama tujuannya untuk merubah perilaku sipil menjadi perilaku aparat, dan kalau akan pensiun dimasukkan lagi ke asrama untuk proses mengembalikan kepada perilaku sipil. Kalau santri masuk asrama / pondok perubahan perilaku apa yang akan dibentuk ? (saya tidak tahu) Kalau nantinya mahasiswa baru ITS masuk asrama (yang sedang dibangun) perubahan perilaku apa yang akan dibentuk ? (saya juga tidak tahu). Semoga saja tidak seperti asrama IPDN.

    Salam Soekarsono H

  2. […] Terbaru mesinits pada Strategi PembelajaranEvaluasi Diri « Blog Teknik Mesin ITS pada Strategi PembelajaranReengineering PT « […]

  3. Strategi pembelajaran semestinya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran itu sendiri. jenjang Strata 1 lebih berorientasi pada keilmuan daripada ‘kompetensi’, sebaliknya dengan jejang Diploma.

    Menurut saya konsep tersebut di atas ada pengecualian untuk bidang-bidang tertentu, seperti kedokteran dan teknik. Mengingat ‘kompetensi’ dokter dan insinyur menentukan hidup mati manusia dan mesin. Jadi muatan ‘kompetensi’ melalui mata kuliah praktikum dan PKL harus lebih berbobot dan praktis.

  4. bagaimana jika dikaitkan dengan kompetensi strategi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: