mesin-its-indonesia

Bongkar Kurikulum

In kurikulum, Kurikulum Materi, pendidikan, teknik mesin on 30/05/2007 at 00:00

Mohon komentar kritis ya. (Bagaimana Caranya?)

Saya iseng-iseng (ngoyo) membongkar kurikulum mesin 2004. Sementara ini kita lihat dari sudut materi kulaih saja, kompetensi diabaikan.

———-

Kurikulum kita dibangun berbasis pada tiga tahap besar: persiapan, ‘sarmud’, dan sarjana. Karena pada intinya ditandai dengan kuliah: GAMBAR – ELMES – TA.

Melanjutkan materi SMA, siswa dibekali dengan materi dasar hingga sem 4 yang puncaknya di sem 2: DASAR: fisika-kalkulus-matematika

Selepas semester 1 hingga puncaknya semester 6 mulailah siswa dikenalkan pada materi kuliah dari 4 bidstu secara bertahap: TP: promanu-CNC-mould-perkakas DS: struktur-kekuatan-kinematika-dinamika-getaran MT: bahan-metalurgi-las-cor-perlakuan KE: termo-perpan-mekflu-pendingin-pembakaran-kompresor

Di semester 6, yang intinya pada perencanaan elmes, juga mulai dikenalkan pada PBS bidstu sebagai bekal TA.

Disamping itu, siswa juga dibekali materi penunjang: KOMP: prokomp-annum STAT: statistik-pereks-RO-OP KONTROL: pengtek-pengoto-mekatronika

PLGKP: pengTM-kimia-metrologi-TTL-ATB

———-

Sementara itu, ManMinutes per week (siswa) yang terpakai untuk proses pembelajaran ini, bila kita asumsi minimal (dalam menit/minggu): 1 sks kuliah = 100 terstruktur (50 ttp muka + 50 penugasan), dan 50 mandiri. 1 sks responsi = 100 terstruktur, dan 50 mandiri. 1 sks praktkm = 180 kegiatan. 1 sks TA = 240 kegiatan. 1 sks KP = 9000 kegiatan

Bila sks responsi terpisah dengan sks kuliah maka beban siswa: sem 1-2 adalah 50 jam/mg; sem 3-6 adalah 60-80 jam/mg; sem 7 adalah 200 jam/mg; sem 8 adalah 400 jam/mg. GILA!

Bila sks responsi termasuk sks kuliah, maka beban siswa akan menurun pada sem 3-6 menjadi 50 jam/mg.

———-

Jadi, intinya: Beban kurikulum mesin memang padat dilihat dari ManMinute-nya, namun saya melihat ada celah-celah yang bisa kita efisiensikan. Usulan saya:

  1. Saya usul kepada tim-mutu untuk punya suatu perangkat yang dapat menjaring ‘opini’ dari berbagai fihak mengenai derajat kepentingan dari setiap materi kuliah dan efisiensi kurikulum. Tujuannya agar dengan mudah kita mendapat masukan berarti mengenai kepentingan dari setiap kuliah. Kita jadi lebih adaptif dan mudah menentukan perubahan yang terbaik bila punya data yang mendasarinya. Tanpa data ini kita seperti tukang-ban bukan insinyur, bekalnya try-and-error, tanpa konsep.
  2. Manjelang perubahan kurikulum 2009 (kalo 5 tahun sekali) akan datang, coba mulai diskusikan lebih seksama mau kemana perubahan ini. Awali dengan Visi/Misi yang berbasis pada kualitas, kemudian Goal/Target siswa, kemudian atur materi kuliah agar bermuara pada gola-goal itu, perhatikan distribusi beban siswa dalam ManMinutes (bukan sks saja). KAlo mau ManMinutes 40 jam/mg maka idealnya 16 sks/sem (total 128 sks 8 sem).
    Biasanya yang sulit ya waktu ekuivalensi. Bagaimana dengan siswa yang berada ditengah-tengah proses? Pada prinsipnya yang harus dijaga ya kecukupan materi dan kemampuan yang telah diambilnya. Memang kelihatan jelimet, dan harus metani satu-demi-satu. Tapi bisa selama konsepnya kuat.
  3. Jika berandai-andai: Karena siswa punya tiga tahap goal, yaitu (1) berhasil mengenal mesin; (2) berhasil melakukan perancangan mesin; (3) berhasil melakukan penelitian mesin; maka:
    1. (kalo goal tetap) – ada baiknya urutan materi diatur sehingga mengkerucut pada tiga goal itu; – kuliah-kuliah sebelum perencanaan elmes tidak terlalu dalam dan lebar. misalnya elmes cukup 1-2, statika-mkm cukup 2 kuliah, dsb. – perencanakan diajukan menjadi pada semester 4; karena masih ada kp dan ta yang memakan energi.
    2. (kalo goal berubah) – hapus perencanaan elmes, tarik draft TA lebih maju dengan proses lebih ketat. – elmes cukup 1 kuliah saja dan masuk dalam bidstu DS (sbg bhn TA).
  4. KP dan Praktikum dipikirkan guna dan tujuannya, apa mendukung kemampuan siswa TA, atau yang lain. Usahakan semua tidak keluar dari goal-goal yang sudah disepakati.

Sekali lagi bahwa penyisiran kurikulum ini hanya memperhatikan materi, belum melihat kompetensi yang ingin dibangun. Keberhasilan kurikulum seharusnya melingkupi dua ranah pengembangan, yaitu pengembangan kemampuan teknis, dan pengembangan kemampuan nonteknis (mampu belajar, mampu berkreasi). Ini perlu diskusi lain.

JB Ariatedja, ariatedja[at]me.its.ac.id
http://its.ac.id/personal/ariatedja http://julendra.wordpress.com

  1. Pak Jule, yang Bambang Ariateja

    Saya sangat sependapat dengan berbagai pemikiran dan terobosan yang dikau usulkan, Tetapi beban untuk student saya berharap standar adalah 18 sks/semester yang berarti 54 jam kerja/ minggu atau hampir 11 jam/hari untuk 5 hari kerja. Tampaknya memang sedikit rodi but what the heck. Mereka masih muda dan fulltimer. Kalau parttimer seperti ekstensi begitu ya cukuplah maksimum 12 sks/semester yang berarti 36 jam kerja/minggu atawa 7 jam/hari untuk 5 hari kerja/minggu.

    Pada bagian berandai-andai, Saya sangat setuju dengan yang goal tetap dengan tambahan proyek elemen mesin dikerjakan dalam kelompok dan diwujudkan apakah dalam purwarupa atau miniatur atau gambar animasi. Satu kelompok boleh 3 atau 4 orang. Yet, mereka harus dapat memvisualisasikan ide mereka.

    Untuk TA saya cenderung memaknainya sebagai Latihan Yang Besar dan lebih kompleks/lengkap. Proses dalam seminar proposal diketatkan dalam arti ada peluang revisi besar atau rombak total bahkan tertolak. Sementara itu TA merupakan tanggung jawab penuh Pembimbing. Tidak perlu ujian TA anymore.

    KP masih perlu tetapi perlu diubah formatnya, bila mungkin terintegrasi dengan TA atau PEM. Laboratory work perlu peningkatan yang lebih bermakna signifikan dan relevan kata Jarwo Kwat.

    Budi Utomo Kukuh Widodo.

  2. Ini pendapat pribadi:

    1.Tahap persiapan: Fase pembekalan (1thn)==> disini mahasiswa dibekali dg tool(matematika,kimia,progkom…dll) yg akan bermanfaat buat memahami matakuliah dasar ilmu mesin di tahap berikutnya.

    2.Tahap sarjana muda: Fase mengenal dan menguasai dasar2 ilmu mesin (2thn)==> matkul yg terlalu spesifik sebaiknya dikeluarkan dari fase ini dan masuk fase berikutnya, spt:kompresor,mesin pembakaran dalam,CNC dll

    3.Tahap sarjana: Fase mengenal bgm mengaplikasikan dasar2 ilmu mesin (1thn terakhir)==> TA(PEM dilebur kedalamnya), matakuliah pilihan bebas(berdasarkan riset mereka),KP(kunjungan ke perusahaan 1-2hr saja dg asumsi bg mereka yg akan bekerja di perusahaan, ketika masuk ke perusahaan, sdh disediakan waktu 3bln utk beradaptasi dg perusahaan)

    Maaf kalau kurang berkenan.

    Harus

  3. Bismillah ama ba’du Pak Jul dan kawan-2 lainnya, dengan sengaja saya mendelay respon karena sebenarnya yg lebih bagus adalah kawan-2 yg diindustri yg berkomentar, setelah email sampean tak ada yang merspon saya memberanikan diri untuk ikut mengamati kurikulum di Mesin,

    Dengan men-skim kurikulum T mesin yang pak Julendra tulis ini, jauh lebih bagus dibanding zaman saya kuliah. Pada masa saya menjadi mahasiswa dulu, secara konsep susah untuk bisa graduated tepat waktu. Hanya orang-orang super saja yang bisa lulus tepat waktu. Pak Made Londen, Pak Tri Yogi, pak Herman Sasongko itu adalah contoh-contoh orang-2 yang tak punya udel (baca: Puser). Sedang saya tergolong ordinary student. Nah balik ke kurkukulum yang ada, secara materi sebenarnya sudah bagus (maaf saya belum bisa mengatakan berembel-embel SANGAT BAGUS) karena belum ada pembanding lainnya.

    Dengan kurikulum ini semestinya mahasiswa yang lulus tepat waktu harus banyak karena materi kurikulum sekarang sudah manusiawi. Nah, kenyataannya lama studi mesin merupakan salah satu yang tergolong panjang di ITS (mungkin pesaing terdekat adalah Perkapalan). Saya tidak tahu persis mengapa lama studi menjadi kendala di Teknik Mesin. Saya tak punya real data tapi ada kemungkinan root of courses dari masing-masing bidang masih belum bagus (kalau melihat kurikulum rasanya janggal kalau root of coursesnya buruk). Kemungkinan kedua adalah kompetensi dari masing-masing kuliah masih belum sesuai dengan SKS (jumlah SKS berkurang tapi materi ajar tak berobah dari jaman saya). Kemungkinan ketiga adalah improvement dari metode pembelajaran dosen belum bagus. Kalau melihat di topik yang berbeda dari pak Juledra dosen-2 senior dengan degree s-1 merupakan beban bagi jurusan Mesin. Kemungkinan ke 4 adalah jumlah dosen dan mahasiswa tidak komparabel. Atau cenderung jumlah mahasiswa terlalu banyak sehingga fasilitas yang ada kurang mendukung.

    Sepertinya tugas tim mutu jurusan adalah berbenah diri pada proses pembelajaran, namun feeling saya mengatakan arogansi dosen senior (atau lebih umum arogansi anak-2 mesin ITS) membuat tim mutu akan kwalahan untuk melakukan perobahan disini. Maaf saya tak punya istilah yang lebih bagus, kalau ada salah menterjemahkan tolong jangan diperdebatkan pada masalah istilah ini. Sepertinya diperlukan orang-2 macam pak Sudjud yang keinginan maju besar, sabar dalam menghendle problems, dan yang pasti beliau tergolong senior. Sayang kok ya cuma ada 1 Sudjud, coba ada 10 orang kayaknya ok. Dosen muda yang heboh sepertinya banyak di Mesin, tapi bisakah mereka merobah kultur mesin yang demikian kuat itu? Sepertinya perlu tokoh senior yang bisa menjadi motor mesin.

    Jadi kurikulum secara materi sudah bagus, perlu dipelajari root of courses, dan kompetensi mata kuliah perlu ditengok apakah sudah sesuai dengan tujuan kurikulum. Kalau perlu kita bisa tengok ABET apakah meteri-2 mata kuliah itu sudah pas dengan yg diminta atau justru terlalu banyak sehingga menjadi penghambat laju kelulusan. Tim mutu Jurusan perlu kerjakeras untuk merobah kultur jurusan yang sangat kental.

    Aguk/m-20 Pahang Darul Makmur

  4. Dear all,

    Marilah kita dukung Pak Sudiyono beserta team mutu dan para dosen Teknik Mesin ITS yang sedang bekerja serius untuk merumuskan dan melahirkan kembali wajah baru Teknik Mesin ITS…. Tentunya jika masih ada kepedulian, kecintaan dan harapan dari alumni netter terhadap almamater tercinta: Teknik Mesin ITS, maka berbondong-bondonglah untuk memberikan saran, kritikan dan masukannya yang terbaik…. (sekali lagi) buat kemajuan almamater kita tercinta Teknik Mesin ITS… Saya pikir, sekecil dan sepahit apapun input / masukan dari alumni terhadap dinamika kampus, akan sangat berarti bagi team perumus perubahan….

    Selanjutnya, saya tidak akan mengomentari apa yang diluar kapasitas saya tentang sks dan beban mahasiswa yang pernah disampaikan secara bagus oleh Pak Julendra…

    Di sini, saya hanya mau usul dan komentar…(syukur-syukur diterima, kalau tidak ya….mboten nopo nopo, sinambi mrengut…hehe)

    Langsung saja, saya ingin mengomentari soal menggambar teknik / mesin… Saya sepakat dengan sdr. Firman S Hidayat…bahwa dunia kerja saat ini (sudah ada yang survei?) tidak lagi membutuhkan draughter manual…alasannya jelas, selain dunia sekarang sudah ter- connect computerize, menggambar dengan software di komputer jauh lebih praktis, ekonomis dan mempersingkat waktu…apalagi sekarang sudah tersedia banyak software-software drawing bemunculan untuk mempermudah dan mempersingkat pekerjaan… Saya tidak bisa membayangkan, jika di dunia EPC construction (tempat saya bekerja) masih menggunakan sistem manual….berapa harga finalti yang harus dibayar untuk keterlambatan schedule akibat P&ID yang sering revisi…belum lagi soal transfer file gambar jarak jauh, apa bisa kurier mengalahkan kecepatan internet via email? …saya pikir tak perlu memperpanjang soal ini… Pertanyaan saya adalah, apakah sampai saat ini Teknik Mesin ITS masih memberi tugas-tugas menggambar teknik/mesin secara manual? Jika masih, betapa kasihan-nya (what a pity? istilahnya)….jika masih banyak mahasiswa yang tersandung akibat menggambar teknik/mesin… Saya masih ingat dulu ada teman seangkatan saya yang DO akibat tugas menggambar teknik/mesin….yang lain adalah ada teman yang hebat secara akademis, namun dia terhambat di evaluasi tahap persiapan oleh sebab mata kuliah menggambar teknik yang belum lulus… Padahal, di dunia kerja nanti, seorang sarjana tidak menjadi draughter…. Usul saya Pak, jika memang masih ada mata kuliah menggambar dengan tugas-tugas manual…mohon untuk di”repormasi” (bahasa sundanya revormasi).

    Tentang mata kuliah yang lain,…sementara belum ada komentar

    Tentang training (bukan kuliah tamu). Mohon kiranya di Jurusan Teknik Mesin ITS digalakkan training-training technically ( problem solving and maintenance for equipments) “certified”, yang diselenggarakan oleh pihak Jurusan bekerja sama dengan lembaga swasta yang qualified tentunya. Selain bisa sebagai nilai tambah mahasiswa saat melamar pekerjaan, juga bisa meningkatkan wawasan mahasiswa dalam aplikasi teory yang didapatkan dari bangku kuliahnya : Materi yang saya usulkan: 1. Compressor (all type). 2. Pumps (all type). 3. Boiler / Steam generator 4. Gas / Steam Turbin Generator 5. Diesel Engine Generator 6. Dll, masih banyak lagi Saya yakin, jika seorang mechanical fresh graduate melamar ke dunia Oil&Gas / Construction dengan sertifikasi pernah mengikuti training equipment di atas…dijamin akan banyak perusahaan yang menerimanya… laris manis tanjung gempol, dah….

    Oh ya, soal Bahasa Inggris dan globalisasi (sebuah kata usang namun masih tetap relevant) saya berharap “suatu saat” ITS menerapkan: 1. Tugas presentasi (mungkin di luar jam perkuliahan atau masuk salah satu responsi) dengan memakai bahasa Inggris. 2. Presentasi sidang (minimal seminar TA) wajib menggunakan bahasa Inggris (baik pemapar maupun penanya)… 3. TA terjilid dalam 2 bahasa: Indonesia dan Inggris (dulu, alm Pak Maksum sudah menerapkan untuk mhsw bimbingannya). 4. Syukur-syukur semua dosen-dosennya juga mengajar dengan bahasa internasional. 5. Teknik Mesin ITS menjalin mitra/kerjasama dengan perguruan tinggi ternama di dunia (baik dari US, Inggris, German, Prancis, Australia, atau minim Singapore)di bid. mechanical engieering dept. 6. Mahasiswa bisa kerja praktek dengan bebas di seluruh penjuru dunia…

    Demikian usul saya yang humble ini Sekali lagi, dalam benak saya…Teknik Mesin ITS akan mengglobal…..

    Salam hangat dari negeri kecil yang selalu membangkitkan warganya untuk merasa dan menjadi hebat di dunia…

    Imam Supriyadi M37
    (betapa menyemangati untuk menjadi hebat sejak kecil itu perlu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: