mesin-its-indonesia

Tolok Ukur

In kurikulum, Sistem Pendukung, Strategi Pembelajaran, teknik mesin on 24/05/2007 at 00:00

Iya P. Budi kalau pinjam kata-katanya JK dr Rep BBM “Itu bagus dan Relevan”.

Tapi.., tolok ukurnya mestinya jangan hanya NRK dan IPS, Perguruan tinggi (PT) bukan SMA, karena akan bias kembali saja ke fitrahnya PT dgn tri dharmanya.

Sederhana saja apa produk perguruan tinggi? lulusan dgn jumlah banyak, apa lulusan dgn IPK tinggi atau dgn waktu kuliah yg pendek? atau yg lainnya.

Jawabnya apa yaa….?

Suwarmin, suwarmin[at]me. its.ac.id

  1. Pak Warmin dan Dear Dos lain;

    Yang saya kemukakan memang terbatas masalah pembelajaran, yang berakibat langsung ke mahasiswa dan lulusan. Memang tidak akan terlepas dari pengaruh hal dalam Tridharma.

    Tolok ukur pembelajaran dalam satu semester, yang paling mudah dideteksi adalah NRK dan IPS. Dua hal itu mengarah ke IPK dan masa studi. Masa studi menunjukkan efisiensi dan efektifitas sistem ITS dalam memberikan jasa pendidikan dan menghasilkan produk jasa (men-transdormasika n) dari lulusan SMA menjadi sarjana yang bermutu. Sementara IPK menunjukkan pengakuan resmi dari sistem kita (dosen, jurusan, fakultas dan ITS) terhadap penguasaan ilmu sarjana yang kita luluskan. IPK 3, ekifalen dengan nilai rata-rata B, tersurat bahwa sistem kita menganggap penguasaan ilmu lulusan ITS itu sekitar 61-70% dari standard kurikulum yang diinginkan oleh sistem. Perlu disadari bahwa program sarjana ITS adalah 8 semester, jelas dinyatakan dalam kurikulum. Kurang dari 3% lulusan mesin yang tepat waktu. Kalau mutu lulusan, dan kemampuan kerja lulusan, saya tidak pernah mempertanyakan.

    Yang disuruh memperbaiki oleh Dikti, adalah PT bisa menampung banyak orang, anak bangsa, semuanya kaya miskin berhak pendidikan tinggi. PT bisa menyelenggarakan prosesnya dengan efisien dan efektif, artinya lulusannya pintar bermutu tetapi prosesnya tidak bertele-tele, seperti di LN sana, rata-rata sekolah sarjana ya jangan 5.5 tahun. Yang sekolahnya tepat waktu mestinya cukup banyak.

    Kalau kita menganggap mahasiswa belum standard (ketekunan dan penguasaan ilmunya) maka kembali, tugas kita dosen untuk membuatnya menjadi baik, sesuai standar yang diinginkan kurikulum. Benchmark kita tidak hanya di Indonesia, kita bisa benchmark dengan Singapura, Malaysia, Korea, India dsb. Bagaimana mereka mengelola PT nya.

    Salam

    Sudiyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: