mesin-its-indonesia

Final Project

In kurikulum, Kurikulum Materi, teknik mesin on 23/05/2007 at 00:00

(Bagaimana Caranya?)

Mau cerita sedikit ttg kondisi di Jepang pd umumnya. Perbedaan yg  sangat menonjol adalah jumlah sks mhs s-1 di Jepang (mgkn jg di  negara2 maju lainnya) tidak terlalu tinggi, hanya 124sks, tdk spt di  tpt kita. Seluruh mata kuliah, biasanya sdh sls pd akhir thn ke-3,  shg 1 thn terakhir(thn ke-4) digunakan utk latihan riset(kalau di  kita TA). Pada tahun terakhir (biasanya mhs disebut B4,  baca:Bachelor 4), mhs mulai masuk ke lab2 sesuai dg minat. Di lab2  inilah mereka dibimbing oleh profesor selama 1thn.

Ada seminar bulanan(ada yg 2 mg-an bergantung lab nya) dimana mhs  harus mengkomunikasikan kemajuan risetnya didepan profesor dan tmn2  satu lab. Jadi mhs benar2 dipantau apakah sdh melakukan risetnya dg  baik dan benar. Kalau ada kesalahan, pd saat seminar itulah terjadi  proses pembelajaran yg sesungguhnya. Shg ketika TA diujikan secara  resmi di akhir tahun, sdh tdk adalagi istilah pembantaian selain  formalitas dan 100% dijamin lulus. FYI: ujian TA mhs s-1 di jpg  hanya 7min presentasi dan 3min tanyajawab. Karena mereka menganggap  proses pembelajaran dan ujian telah berlangsung selama 1thn. Dan ini  lebih berarti bila dibandingkan dg pembantaian 1 jam di akhir yg tdk  begitu byk memberikan manfaat bagi si mhs kecuali ketakutan…hehe..

Bagaimana supaya proses bimbingan TA bisa berjalan dg baik? Perlu  dibikinkan aturan bersama diantara kita (khususnya utk memperbanyak  dan mewajibkan tatap muka dosen-mhs minimal 1bln 1 kali selama 1thn,  bisa dlm bentuk seminar kecil) 

Perlu diketahui, TA mhs s-1 di Jepang, tdk seberat di tpt kita yg  dituntut harus punya novelty, krn memang bukan tugas mhs s-1 utk  menemukan sesuatu yg baru. Novelty adalah tugas mhs s-3. S-1 cukup  belajar bgm melakukan riset yg benar walau hanya meniru apa yg sdh  ada.Begitu yg berjalan di jepang.Dan biasanya mereka hanya membantu  riset mhs s-2 dan s-3. Bahkan berita terkahir, jepang terus  melakukan reformasi pendidikan dan salah satu rencananya adalah utk  mhs s-1 yg akan lanjut ke s-2,s-1 cukup 3thn saja.

Untuk detailnya ttg bgm sistem bimbingan TA di jepang, bisa tanya ke  Prabowo sensei. Prabowo sensei, yoroshiku onegaishimasu…

Tidak ada ospek di Jepang,apalagi yg model spt di tpt kita (mesin).Yang ada hanya orientasi ke lab2 dan diskusi seputar  pendidikan/riset/lab sbg bagian dari pengenalan thd lingkungan  baru.Open campus sering dilakukan utk membuka kesempatan  komununikasi antara masyarakat kampus dg dunia luar,tmsk para  praktisi.

Itu utk kasus jepang, kalau ada yg baik dan cucok bisa diadopsi.Yang  tdk cucok dg konteks indonesia, ya ditinggalkan.

Kalau boleh usul, matakuliah KP, sebaiknya ditiadakan dan cukup dg  company visit saja selama 1 atau 2 hr yg bisa dikemas sbg ekskul.  PEM jg tdk perlu, dg catatan TA dilakukan dg serius spt contoh kasus  di jepang yg sy tuliskan. Matkul2 lain yg tdk terlalu fundamental jg  sebaiknya cukup jd matkul pilihan bebas dan bukan pilihan wajib.

Demikian urun rembug saya, maaf kepanjangan.

Harus, harus_laksana[at]yahoo.com

  1. Pak Harus yang LG

    Terimakasih untuk sharingnya, saya ingin menyoroti tentang TA saaja. Coba kalau kita perhatikan TA kita yang menurut pak Harus ‘agak’ berlebihan, maka kejadian ini bermula dari perubahan paradigma yang semula merancang saja menjadi meneliti dengan ‘novelty’ yang acap kali istimewa lho. Kapan hal itu terjadi? Ya saat kita mulai mendapat banyak alat laboratorium dan para dosen pulang membawa ilmu dan gelar lanjutan. Sebagian dari beliau mencoba lebih bermurah hati dengan memberikan berbagai tambahan ilmu kepada para mahasiswa dan memberi kesempatan lebih banyak untuk bergelut di laboratorium bukan sekadar menghitung merencana tetapi hingga mengamati, menganalisis dan sintesis berbagai gejala fisik. Para beliaulah yang dengan susah payah mengajak para mahasiswa ikut terlibat dalam berbagai forum ilmiah, mengajari berbagai metode dan cara presentasi. Nah kalau sekarang apa yang sdh ada dan berkembang dirasa terlalu berlebih, maka para beliau generasi sekarang inilah yang mustinya kemudian berkiprah dan mengubah paradigma para beliau yang terdahulu.

    Tampaknya dinamika pertumbuhan Teknik Mesin 50 thn ini akan memasuki wajah dan paradigma baru.

    Ueber alles, vivat mesin, dirgahayu
    Budi Item.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: