mesin-its-indonesia

Bagaimana Caranya?

In Karakter Pelajar, Kompetensi Dosen, kurikulum, Kurikulum Materi, Sistem Pendukung, Strategi Pembelajaran, teknik mesin on 22/05/2007 at 00:00

Kembali saya minta teman-teman yang sudah mengenal suasana perguruan tinggi  nun jauh, atau yang sekarang sedang di sono, mungkin banyak tahu, bagaimana  kampus-kampus besar tadi punya culture yang dapat mengubah budaya dan  kebiasaan mahasiswa baru, menjadi mahasiswa kampus itu. Dari SMA, atau Ali’ah dari berbagai jenis ini, menjadi mahasiswa ITS, dengan  kultur dan budaya ITS yang beda dari sebelumnya, dalam arti baik.

Akabri bisa membuat beda, dari arek yang tadinya tidak PD, tidak tekun,  tidak segalanya, setelah lulus menjadi sangat lain. Demikian juga Nan Nyang, IIT (India), beberapa kampus di Malaysia.

Bagaimana kita bisa menjadi seperti itu. Bagaimana caranya. Bagaimana,  bagaimana?

Kurikulumpun kalau perlu, ya kita mesti open minded untuk meng-evaluasinya. Di Korea yang alumninya sudah nyemplung pada industri buat mobil, industri  buat AC, design ketel, turbin, heat exchanger dll, ee lho kok buku Holmann  di gradak sak semester. Di Indonesia yang pemakaian ilmu mesin-nya belum  canggih, malahan satu buku dipalai 2 semester, artinya 4 sks. Mana yang  bener?

Kerja praktek disana gimana, disini gimana. Apa ada diantara kita yang saat  kuliah dulu dapat nilai kerja praktek A? tahukah mahasiswa kita bagaimana  cara mendapatkan nilai A dalam KP, dalam PEM, dalam GamTek, praktikum,  misalnya?

Begitu juga dengan TA. Beberapa semester akhir ini sudah mulai banyak TA yang dapat AB, dan A. Dulu hampir semuanya dapat B, sedikit AB, hanya yang super hebat yang A.  Tidak jelas apa mahasiswa sekarang lebih pintar dari dulu, atau persepsinya  dosen yang bergeser.

B itu kan cuman 61 nilainya. Seandainya pemahaman itu sumbangan dari  pembimbingnya 30 point, berarti mahasiswanya cuman punya nilai 31 point,  dari usahanya yang nungsang njempalik itu. Wah..

Teman-teman yang muda, atau tim mutu jurusan, sangat bagus kalau diskusi  seperti ini kita dokumen-kan, tulisan dikumpulkan, dibendel, ditaruh di  ruang dosen, biar jadi bacaan semua orang. Salam

SKR, urge01[at]rad.net.id

  1. Sederhana saja apa produk perguruan tinggi?

    Ibarat pabrik, produk perguruan tinggi adalah manusia yang mempunyai basic pengetahuan yg mumpuni dibidangnya, ulet, kreatif, dan yang paling penting adalah harus mempunyai budi pekerti yg luhur.

    lulusan dgn jumlah banyak,apa lulusan dgn IPK tinggi atau dgn waktu kuliah yg pendek? atau yg lainnya.

    Tolok ukur untuk menilai kemampuan pengetahuan yg dimiliki mahasiswa, yg paling akurat adalah IP dan lama studi, tapi untuk kriteria ulet dan kreatif, apakah bisa diukur dengan IP dan lama studi? padahal jika mereka sudah bekerja kriteria-kriteria inilah yang paling menentukan. Kecuali kalo memang dalam perkuliahan mahasiswa banyak diberi tugas-tugas, sehingga memaksa mereka untuk ulet, tapi tentunya jadi beban tambahan bagi dosen.

    Menurut saya sih kurikulum di Teknik Mesin sudah sangat bagus dan canggih kalo dibandingkan di tempat saya kuliah disini. Misalnya, di its, pengajaran Perpan lebih detil, sampai dibagi Perpan I dan Perpan II, sedang disini hanya satu, seluruh buku J.P. Holman harus habis satu semester. Dan mahasiswa teknik mesin its menurut saya mempunyai kemampuan yg tidak kalah dengan mahasiswa disini, (ini menurut saya, mungkin juga apa karena mahasiswa korea disini kurang bisa berbahasa inggris ato karena sing ngajar bisanya pake bahasa inggris campur meduro, he..he.. , jadinya plonga plongo). Tapi yang lebih dari mahasiswa korea, adalah, ketekunan, keuletan dan kreatif.

    Salam Ary

  2. Mr. Kemp,

    Bicara tentang Holman aku jadi rada nelangsa.
    Lha yo, ndik sana Satu buku dilahap dalam satu semester, sementara ndik sini satu buku dikunyah dua semester, itupun ada beberapa bagian yang
    tidak sempat diajarkan.

    So what is your comment.

    Pilih salah satu atau beberapa dari beberapa opsi berikut.;-))

    1.Dosennya kurang trengginas
    2.Dosennya tidak mampu mentransfer materi dan tidak percaya bahwa mhsnya dpt bekerja scr dahsyat (mengutip gaya Tung Desem Waringin)
    3.Sarana dan prasarana tidak memadai.
    4.Mhs kurang termotivasi.
    5.Mhs kurang diberi kepercayaan untuk mengembangkan diri sendiri.
    6.Mhs tidak mampu membaca textbook yg ditulis dalam bahasa asing
    7.Kantin mhs tdk menyediakan makanan yg bermutu tinggi.
    8.Ruang kelas terlalu dingin.
    9.buat sendiri lah ……………………

    Salam ueber alles dan selamat berjuang.

    Item

  3. […] Final Project Posted Mei 23, 2007 (Bagaimana Caranya?) […]

  4. Wah, akhirnya ITS mendapatkan porsi di kementerian, selamat buat Pak Nuh (kalo memang jadi). Mungkin akan ada dosen ITS yang direkrut menjadi staf ahli Menkominfo, soalnya banyak yang ahli dalam mencari situs2 di internet mulai dari yang porn sampai yang …..semi porn, he..he..

    Kembali ke masalah PT di LN terutama di negara2 yang melonjak fantastis dalam industri, salah satunya yaitu Korea. Negara ini merdekanya hampir sama dengan Indonesia, hanya selisih 2 hari. Juga sama2 pernah di jajah Jepun. Bahkan awal2 kemerdekaannnya masih diselingi perang dengan Korut. Indonesia lebih dulu startnya, dalam hal pembangunan terutama industri, misalnya PAL, Krakatau Steel, dan beberapa industri strategis lainnya.

    Lalu setelah negara ginseng ini cukup stabil, mulailah dia melirik dan mencontoh negara2 yang sudah berkembang duluan. Bahkan kabarnya mereka sempat benchmark ke Industri2 strategis di Indonesia. Nah, setelah puluhan tahun mengembangkan industri2 strategis, sekarang kelihatan pamornya, mulai dari perkapalan yaitu Hyundai dan Samsong, bahkan sekarang ini TNI AL memesan kapal perang ke Hyundai di kota Busan (saya kenal baik dengan perwira yg ditugaskan ke Korea, karena sering ditraktir, dan omongannya Suroboyoan yg agak porno) dan juga POSCO (semacam Krakatau Steel) yg sudah jawara di kancah international.

    Mengenai pengembangan PT nya, mungkin sama juga startnya dengan Indonesia. Bedanya hanya di masalah budget, kalo di sini PT benar2 tidak kesulitan masalah pendanaan. Untuk kurikulum mungkin hampir sama dengan ITS yaitu 138 sks, dan juga ada kerja praktek satu kali, dihitung 3 sks, yang cukup membedakan adalah Tugas Akhir, disini tugas akhir tidak terlalu rumit, hanya belajar riset. dan sidang TA tidak lama hanya maksimal 30 menit, dikerjakan berkelompok lagi, 2 sampai 3 orang. Seharusnya mahasiswa Korea lebih cepat lulus dibanding mhs ITS, tetapi tidak. Kenapa? karena mereka harus ikut WAJIB MILITER selama 2 tahun, he..he.. bayangkan, 2 tahun, kasihan banget.

    Menurut saya, ini seperti makan buah simalakama, kalo ingin output TA yang bagus tentunya lama studi jadi panjang (hasil pengamatan saya, yg bikin lama lulus adalah TA). Tapi kalo mau niru di sini, mungkin lama studi jadi pendek, tapi TA turun kualitasnya.

    Kurikulum ITS menurut saya sudah pada track yg benar, cuman memang harus lebih kerja keras lagi, terutama bagi para dosen2. Ilmu yg saya dapat sementara ini disini hanya satu yaitu, just do it and work hard.

    Vivat Uber Alles

    Ary

  5. […] Strategi Pembelajaran Mei 30th, 2007 Mohon koreksi, terima kasih. << Bagaimana Caranya? […]

  6. […] Bongkar Kurikulum Mei 30th, 2007 Mohon komentar kritis ya. (Bagaimana Caranya?) […]

  7. […] Bongkar SDM (mesin) Mei 30th, 2007 Saya bedah mengenai sumber daya manusia dan faktor yang mempengaruhinya. (data 2000, khusus teknik mesin) << Bagaimana Caranya? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: