mesin-its-indonesia

Kampus-M-ku dari Kacamata Seorang Alumnus

In Sistem Pendukung, teknik mesin on 14/05/2007 at 00:00

Hallo semua :

Saya berjanji memberikan tanggapan ke teman angkatan saya, salah dosen di mesin ITS setelah saya ke kampus kemarin, 1 may 2007 jam 18.30 – 20.00 malam. Semoga dia berkenan :

Kampus kita hidup malam hari. Saya tidak ke kampus sejak 1993, setelah wisuda Tengah Maret saat itu. Hal utama yang saya lihat dibanding saya kuliah dulu 1987-1992, adalah kampus kita hidup dimalam hari. Kondisi lingkungan yang memanfaatkan kebun kecil dan kolam yang dimanusiawikan itu, merupakan hal positif. dulu jam 15.00 saja sudah jarang ada mahasiswa selain yang habis kuliah siang. Jam 17.00 masih ada dikampus kalau nggak terpaksa. jam 18.00 dikampus mau bikin peyek nyamuk karena nyamuk audzubillah banyaknya. bertahan dan bermalam dikampus paling cuma segelintir di ruang komputer (yang cuma 6 units dan antriannya kayak antri sembako), dan Lab untuk bikin TA itu saja saya di[ikir dibawah 30-an. Sekarang saya temui hal yang berbeda. kampus ramai di malam hari. ada mahasiswa yang siangnya kerja ada yang asli mahasiswa. mereka menyapa kami dengan sopan. Nggak ‘sangar’ dan yang pakai kaos malah sedikit sekali. (saya pikir saya salah masuk ke UNAIR. Dari dulu saya memang anti mahasiswa pakai sandal jepit, tapi serapi kayak sekarang..? wah bisa juga ya..? mungkin banyak mahasiswinya kali ya. dulu khan dias lagi, dias lagi.

Tapi labnya berantakan sekali. saya sedih dengan lab-lab yang ada. kondisinya sempit dan berantakan. saya kuatir dengan keselamatan pengguna dan bangunan kita itu. sebagai calon engineer, kayaknya memiliki tempat lab rapi adalah hal penting, memikirkan proses yang aman adalah sebagian dari pola bekerja. materinya juga kelihatan nggak bertambah banyak. ini klasik. lab dari dulu bersahaja dan membuat dosen bingung kalau mau memberikan contoh dari kuliahnya. saya ingat ikut kuliah plat and sheel dulu. nggak ada contoh uji tekan, dan ketika kesempatan di ITB, saya lihat satu sayap pesawat lengkap dengan demonstrasi bending momen dan alat transfer datanya dgn strain gauge tersedia di lab, belum lagi mesin uji tekan untuk konstruksi pesawatnya. Itu tahun 1993-an, nggak tahu sekarang. bagaimanapun fasiitas lab kita masih nggak banyak berubah. saya pikir kalau memang ada hambatan dana, ada gerakan 100 ribu-an per alumni, untuk tiap 3 bulan, adalah model yang baik. Teman angkatan saya Gambit saya lihat memberikan sebuah kompressor..! well done gambit. Sik alah jeneng asli-e gambit kuwi sopo toh..? Gambit koyok anggota X-Men wae. Kunjoro mungkin kita perlu ke astra buat cari engine lagi. zamannya sudah EFI bukan, kita sudah kena aturan emisi, karburetor tinggal sejarah.

Membuat rapi lab memberikan arti banyak, lulusan kita harusnya tidak kayak saya dulu, baru ngeh dengan rapi pas di pabrik. rapi adalah bagian dari analisa, membuat masalah mudah dilihat dan kerja jadi effisien. Karena saya dari desain saya maennya ke desain. Nggak rapi blas. ruwet, malang melintang nggak karuan. Meja tempat membuat baliho dulu, karena ide Fendi bikin baliho sampai 10 triplek. Masih ada ya. pernah tidur disitu setelah kerja rodi ngecat tulisan desain fendi. Ruang mahasiswa untuk jurusan desain, kayak yang lain itu ide bagus, karena dulu tidak ada momen diskusi antar teman satu jurusan. ketemu teman pasti sing dibahas ludrukan jarang masalah ilmu. cuman mereka juga tidak rapi dan bersahaja. tapi apapun itu ada media untuk memahami bidang studi dengan lebih baik.

Ruang kuliahnya diup grade dgn AC dan projector. A/C windownya pasti makan banyak konsumsi listrik bukan..? sementara melihat kuliah dengan projector..? wah enak juga ya. kebayang ikut kuliah Mek Flu Pak Joni di D303, jam 13.30 dan 3 SKS. weleh-weleh.

Saya tidak terlalu berpikir mengenai anggapan sulitnya sekolah atau tidak ditopik sebelumnya. Dalam diskusi saya dengan teman dosen ini, saya dari dulu melihat selalu ada model dosen yang mengajar berbeda. Pak Harry, dari TI misalnya, menjadi penilai tugas gambar saya saat sarjana muda. nggak main-main : saya mesti 25 kali asistensi saat gambar pensil dan 18 kali saay asistensi klakir. mungkin saya bodoh menggambar saat itu. cuman 4 teman yang satu grup mengalami hal yang sama. (saya tidak tahu cerita mereka). libur 3 bulan semester genap saya mesti habiskan di kost-kostan, dan ngendhok di depan ruang dia atau rumah dia setiap hari, dan karena tidak ada meja gambar, jadi ‘ngepel’ tiap kali menggambar di lantai. Dia selalu sinis, dan melihat saya sebagai contoh yang buruk, contohnya : baru kali ini saya lihat gambar sejelek ini. dia meluluskan saya bahkan 1 minggu sebelum tengat Pak sujud..! dan nilainya 67 saja. Besoknya pak Sujud malah mengup-grade nilai saya jadi 80..!

Satu teman kost hanya butuh 3 kali asistensi untuk gambar pensilnya dan 1 kali klakir langsung lulus dan dapat 76..! (meski kemudian waktu barengan ke pak sujud, nilai dia dikorting jadi 68..!). Saya tidak marah dgn Pak Harry, tapi malah malu tidak bisa sebaik yang dia mau. saat ini saya tahu hakekat ‘benar-benar tahu yang diajarkan beliau’. Karena dalam bekerja gambar teknik ini menjadi sarapan dan memudahkan saya untuk bekerja. Almarhum Pak Maksum, juga memberikan teladan yang kurang lebih sama. Beliau heran saat saya dan 2 orang yang lain, nekad ikut kuliah sarjana di kelas beliau, meski baru 2 tahun belajar. Beliau ‘nggak begitu saja terkesima’, tapi cenderung nggak respek. dan kami dihajar D semua. Setiap saya melihat beliau mengajar saya jadi ingin tahu ttg getaran, dan bertekad ambil getaran. ikut kelas getaran sampai 2 kali sebelum dapat A bulat. Dan kemudian Beliau menanyai saya apakah mau mengambil thema untuk TA milik Dia.

Dibalik semua itu, saya sudah merasakan bagaimana kepercayaan diri menjadi hal krusial saat bekerja. di tahun pertama lulus, chief engineer saya orang italia, sudah 20 tahun di industrinya, meminta saya membuat proposal tentang testing. saya tidak tidur sehari itu karena : ‘tidak percaya diri’. Kalau kita bisa menjadi percaya diri sejak dikampus, sebenarnya amat membantu. Karena itu saya selalu berpikir bagaimana materi yang diberikan memberikan kita kepercayaan untuk menyelesaikan suatu tugas di masa depan..?

Ketika masuk Astra, ada 11 orang ITB baru lulus yang bareng saya yang notabene sudah bekerja 3 tahun sebelumnya. dan mereka ‘bersikap’ sama seperti saya..! kurang ajar khan..?! tapi ketika saya ke lab mereka, dan kampus mereka : pelajaran untuk percaya dirinya ada dimana-mana. ini tahun 1995-an. bagaimana Labnya berjalan, bagaimana mereka berdiskusi dan bicara. Kita harus mempunyai level yang sama.

Saya melihat papan pengumuman kita ada juga yang berbicara ttg ISO, manajemen dll. Sepertinya berpikir manajemen dalam kurun waktu di kampus kita, nggak cocok sama sekali. Kalau memang tertarik masalah manajemen kenapa masuk Mesin..? Ada sekolah manajemen sejak lulus SMA..? weleh-weleh apa kita mau jadi entrepeneurship college istilah kerennya..? Manajemen adalah hal yang bisa dipelajari begitu kita bekerja aku pikir. kalau ada yang lebih melihat jadi manajer berarti harus lulus manajemen, wah salah besar. manajemen juga butuh know how, pengalaman dan kreatifitas selama kita bekerja. terlalu silau dengan manajemen membuat ilmu mesinya dangkal. apalagi bicara ISO. wah, saya sendiri sekarang menjadi auditor supply chain otomotif yang notabene harus tahu ISO juga. saya sarankan : ISO itu gampaaaaannnnnngggg banget. ISO itu bukan ilmu. ISO hanya kumpulan persyaratan atau kondisi manajemen yang diintisarikan dan distandarkan. Baik untuk manajemen yang baru berdiri tapi kelewatan kalau untuk manajemen sudah tahunan. Dalam wadah alumni di jakarta tahun 2004 yang lalu, alumni kita juga paling getol mengangkat entreprenuership. saya tidak sepenuhnya setuju ‘sukses-tidaknya’ alumni karena sudahmenjadi entreprenuership. menjadi pengusaha itu khan ada cetak birunya, ada juga karena turunan dan hibah keluarga macam-macam. mereka orang yang langka. jadi kalau suksesnya harus kayak mereka lantas siapa yang jadi pekerja..?

Kami keliling ke jurusan lain, sipil dengan gedung barunya yang bersih begitu, terlepas dari baru atau tidaknya, bersih dan rapi adalah segalanya. Mesin ITS harus serapi dan sebersih itu mestinya. Sementara mereka sudah membuat gaung 50 tahun mereka. Mesin ITS adem ayem saja kayaknya. Kita dari dulu memang suka kelewatan leyeh-leyehnya. 50 Tahun menurut saya adalah momentum untuk terus maju. Hidup tanpa inovasi adalah mirip mati suri. 50 tahun kalua berlalu begitu saja, saya pikir kita ini sedang di ICU, koma, kena stroke. Bertahan dengan kekuno-an kita adalah langkah statis, dan yang kura-kura akan menjadi pengikut. Sipil mau ISO 9001:2000, mungkin mau jual ke luar, saya tidak tahu business plan dia. Bagaimana mesin..?

Saya pikir Mesin mending menyebut Mesin ITS saja. Jangan tunggu ITS-nya yang lelet nggak karuan. Melihat lulusan Mesin ITB mereka jarang mengatakan : alumni mesin tapi lebih memilih ITB. tulisan Ex-ITB lebih bernilai. atau ITB inside misalnya. Di ITS kayaknya menunggu nilai ITSnya kok suwi. Berpikir kerangka ITS membutuhkan kesamaan langkah semua jurusan, saya tidak tahu kayak apa ruwetnya, dulu saja melakukan wawancara utk pendiri ITS untuk dimensi edisi dies natalis ke-6 harus relah bolos kuliah berminggu-minggu.

Alumni Mesin ITS keikut sertaanya kapan yang tdk jargon saja..?
ada ruang dimana alumni memberikan sesuatu, dan membuat adik-adiknya lebih percaya diri. Tidak mudah, dan celakanya : berapa banyak yang bersedia..?

Mesin ITS
memang harus uber alles sebenar-benarnya.
Titik

danang widoyoko, danangwid[at]yahoo.com

  1. Saya juga ikutan setuju Pak…….

    Walaupun saya bukan Expert ISO tapi dari pengalaman kuliah dulu hampir semua mata kuliah mengajarkan saya dalam menjawab soal dengan cara yang sistematis seperti juga dalam ISO, saya rasa jika boleh saya analogikan itu juga termasuk pelajaran manajemen sederhana secara tidak langsung. Disamping MOP-nya Pak Bobby dan tidak serumit MOP tentunya .

    Dan kebetulan saya dulu juga sering belajar dari contoh2x soal (baca “Baceman”) nah disitu saya rasa saya dapat ketrampilan melakukan audit kali………..untuk memastikan jawaban tersebut benar atau salah tentunya kita mencoba meruntutnya dengan materi atau formula2x nya………….

    Nah, mungkin kalo mau expert baru mungkin belajar langsung dari materi ISO nya………

    Bagaimana Pak Aries yang expert ISO tul gak?

    Salam,

    Puput M35
    yudhexplore[at]yahoo.com

  2. Betul sekali!
    Setuju Pak!

    Masalah ilmu mesin harus lebih didalami daripada ribut2 masalah manajemen ISO ato OHSAS, spt yang pernah saya alami waktu kuliah (waktu ISO sedang Booming).

    Fokus dulu ke ilmu kita.
    Cos yang sudah saya alami, manajemen ISO tidak lah susah (malah lebih susah Manajemen Operasional Produksi – nya Pak Bobby)

    Wassalam.
    Januar – M43
    jagofm43[at]yahoo.com

  3. citra harus ditunjukkan, tapi jaga nama baiknya, fren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: