mesin-its-indonesia

Strategi Gendheng! (Catatan Harian Mahasiswa)

In Karakter Pelajar, Strategi Pembelajaran on 13/05/2007 at 13:08

Catatan diary seorang mahasiswa tentang strategi belajar yang dia bawa sejak SMA …

Dosen1:
Mereka bilang kuat lembur bagadang, tetapi kalau dapat tugas nggarap soal  atau resume and elaborasi serta enrichment materi kuliah untuk the next  meeting mereka agak keberatan gitu lho.

Mahasiswa:
…saya memang kuat begadang, tapi kalo mau ujian saja… Strategi saya dari SMA dulu: catat yang rapi semua perkataan guru, karena biasanya 80% pasti keluar di ujian. Baca-baca dulu sebelum pelajaran sih boleh, tapi rasanya gak pengaruh besar di ujian. Lha kalo jawaban diujian gak persis dengan keinginan guru meski menurut pemikiran saya yang masih sederhana itu benar, ya gak lulus lah… Jadi simpan tenaga buat begadang waktu ujian.

Kalo latihan (yang nge-dril) sih butuh banget… Untung sekarang ada responsi. Tapi ternyata para asisten responsi juga gak terlalu ngerti, bahkan ada yang membingungkan…

Mana bisa saya mencoba untuk memulai menulis kalo gak ada rasa PD. Khan malu. Mau mulai gak tahu apa ini bener ato salah? Ya udah nyonto aja teman-teman. Kalo salah khan ada temannya. Beres…

Dosen1:
Dengan kata lain, meskipun Lesson plan sudah diberikan tetapi idealisasi  mhs seharusnya mempersiapkan diri utk materi pertemuan berikutnya masih  belum jalan. Mhs dtg ke kelas untuk menerima suapan dari dosennya, entah  itu lepas atau taat pada lesson plan. Mostly mrk datang dgn maaf kepala  kosong thd materi yg akan dibahas dalam perkuliahan termaksud.

Mahasiswa:
… saya juga merasa kehabisan tenaga untuk membaca. Malam ini saya harus baca 10 halaman bahasa inggris untuk kuliah Ternodinamika besok. Besoknya saya harus baca 10 halaman bahasa inggris Mekanika Kekuatan Material, dan juga baca 10 halaman bahasa inggris Statistika. Dan begitu seterusnya setiap malam. Saya belum punya cara untuk membaca cepat dan menangkap inti dari setiap bab-paragraf. Yah… lewat saja deh…

Dosen1:
Jadi aku hrs sangat ngoyo memotivasi mrk utk siap thd bhn kuliah yad. Sbg  contoh saja agar mhs mau mempersiapkan diri thd materi konduksi transien,  mrk saya minta mengamati berapa lama waktu untuk menggoreng tempe, tahu  dsb di tempat mereka makan (cak Rosyid misalnya). Pada pertemuan  berikutnya saat membicarakan konduksi transien saya minta mereka lapor  catatan waktu yang mereka buat. Ternyata tidak sampai 50% penghuni kelas  yang melakukan pengamatan sederhana semacam itu.
….Capek dech……….

Mahasiswa:
… wah iya… lupa sama pr ini… emang ada pengaruhnya di ujian? Dan juga khan banyak yang sama-sama gak ngerti. Ah pake strategi kebut semalam ajah…

Dosen1:
Ada baiknya kita lihat kembali Performance Indecator QUE Project dulu, ya  sekedar untuk bercermin sajalah kalau terlalu berat utk dicapai.

Dosen2:
Saya suka pernyataan P Ary ini “Dan mahasiswa teknik mesin its menurut  saya mempunyai kemampuan yg tidak kalah dengan mahasiswa disini, (ini  menurut saya, mungkin juga apa karena mahasiswa korea disini kurang bisa  berbahasa inggris ato karena sing ngajar bisanya pake bahasa inggris  campur meduro, he..he.. , jadinya plonga plongo).

Kalau tidak kalah dari mhs Korea, saya yakin juga tidak kalah dengan mhs  Nan Nyang atau Malaysia sana. Saya setuju.

Mahasiswa:
… sebetulnya saya bisa koq nangkap ilmunya… buktinya dengan strategi kebut semalam (dan lupa dimalam berikutnya) saya bisa lulus. Ya gak kalah lha kalo mau diuji ‘ngakali’ dengan siswa luar neg. Tapi kalo diajak diskusi saya gak PD lha… dengan ITB aja saya kadang masih jiper…

Dosen2:
Lho kenapa kok dosennya ngasih nilai pas-pasan, sehingga mahasiswa kepaksa  ngulang kuliah, dan setelah lulus, predikatnya Kw2, Kw3, tidak ada yang  cumlaude sudah bertahun tahun. Yang paling top, IPK nya 3.37. Yang tepat  waktu 2 orang (angkatan 2002). Why, why?

Mahasiswa:
… nah ini lucunya. Setelah saya ambil matakuliah Mekanika Teori (Statika Struktur sekarang) dengan lulus B (berarti saya sudah mumpuni dalam mencari gaya-gaya reaksi dan turunannya. Eh, waktu kuliah Mekanika Teknik I (MKM 1 sekarang) saya lupa sudah gimana cari reaksi tumpuan… hi-hi lucu deh.

Ya saya tetap pake strategi saya lha, catat saja semua tulisan dosen. Nanti dibaca waktu ujian saja.

Dosen2:
PhilipsConoco pers minyak, minta minimal IPK 3.4, yang lain 3.5.

Mahasiswa:
Di masa akhir kuliah (ya… kira-kira 4 semester terakhir) baru strategi bergeser sedikit. Lha terpaksa sih… Banyak tugas lab., elmes, prop TA, dan lain-lain. Baru kerasa wah saya ngapain saja selama ini. Koq gak ada ilmu yang nyantol ya… Wah udah terlambat …

Dosen1, Dosen2, dan Mahasiswa:
Strategi Ghennnnndheng!
Salam ueber alles.

Dosen1: Budi Utomo Kukuh Widodo, buditem[at]me.its.ac.id
Dosen2: Sudiyono Kromodihardjo, urge01[at]rad.net.id

JB Ariatedja, ariatedja[at]me.its.ac.id

  1. Cak Julendra,

    Sepertinya ada beberapa strategi umum lainnya setidaknya jaman dulu) yang belum diungkapkan:

    1. Strategi Posisi Menentukan Prestasi.
    Berdasar investigasi dangkal, ternyata strategi ini dilakukan juga hampir di semua PTN di Indonesia. Artinya saling membantu dan melindungi dalam berbuat kecurangan sudah merupakan strategi global dunia pendidikan dan kerja kita.

    2. Strategi mBaceman.
    Sebenarnya “baceman” secara ilmiah adalah referensi, tetapi sering kebacut jadi plagiat. Tapi ini terbukti ampuh, karena tugasnya emang dari jaman pak Budi KW masih ganteng sampai jadi pak Item sama/mirip saja.

    3. Strategi PDKT.
    Ini yang paling sulit di ITS. Kalau di PTS dan PTN kelas bawah (ITS khan PTS kelas Utama), pendekatan dengan dosen sangat penting, bahkan cenderung sogokan. Saya pernah mengantar mahasiswa sebuah PTS di Jakarta (yang mahasiswinya banyak jadi bintang sinetron) mesti “sowan” ke calon dosen penguji skripsi dengan membawa “buah tangan”. Kalau di ITS, saya tidak pernah dengar hal ini. Tetapi justru kebalikannya, dosen sangat menjaga jarak dengan mahasiswa. Meski nampak akrab dalam kelas (dengan guyonan khas Suroboyo) tapi tidak banyak bisa merengkuh hati mahasiswa untuk termotifasi belajar. Suasana kelas sering “lucu2 tegang”, lucu nek pas ono saru2ne, tegang nek pas ditanyain. Kita yang otaknya agak tumpul alias daya serap kurang sering malah down dengan suasana kelas yang penuh “intimidasi”. Kasarane nek tibo, malah “mat …ane ndik endi” gak malah ditulung. Yang saya ingat dosen Mesin ITS yang bisa memotivasi saya untuk belajar adalah pak Iwan dan pak Djatmiko (kebetulan keduanya bukan alumni S1 di ITS), pak Azis, pak Warmin (buat pak Yogi dan pak Herman, saya gak ingat pernah di ajar sama panjenengan). Saya denger dosen muda ITS sudah banyak yang tidak sekedar jadi “pengajar”, tapi masih ada beberapa dosen muda yang masih sok angker. Tapi ini memang secara umum, dosen ITS harus bisa menjadi “teman belajar” bukan sekedar “memberi bahan ajar”.

    4. Strategi SKS dan Kisi-kisi.
    Saya pikir ini sudah dibahas sama cak Julendra.

    5. Strategi asal lulus.
    Ini cukup ampuh bagi mereka yang sejak awal tidak memilih profesi sebagai spesialis.

    Saya sendiri cukup kelabakan meraih kelulusan di ITS karena gak pernah punya pola belajar yang pasti sejak SD sampai SMA. Usulan saya, dosen memperbanyak memberi tugas/project tanpa dinilai kepada mahasiswa yang jeblok IP-nya. Kemudian mengoreksinya (bisa dibantu oleh grader/asdos) dengan menunjukkan cara yang benar. Soalnya kalau diberi nilai, nanti motivasi belajar berganti ke mengejar nilai.

    Cheers,
    Indra Depe/M31, indra.prasetya[at]smresindo.com

    p.s. Ma’af kalau masukannya terlalu encer (kurang solid).

  2. Siapa bilang sekolah di ITS sulit?

    Saya dulu kuliah ndak punya strategi. Lha empat semester akhir hampir nggak pernah ikut kuliah, malah sibuk angon bebek di tepi danau kecil tengah taman itu. Bisa lulus juga. Memang cuma dapat IP 2,64. Tapi nggak pernah ada yang meributkan dan berkomentar miring. Satu-satunya yang saya banggakan adalah bisa selesai skripsi 6 bulan di bawah bimbingan Alm. Dr. Ir. Maksum Hadi.

    Sekarang saya lagi kuliah doktoral, jadi saya coba banding-bandingkan waktu saya kuliah S1, S2, dan S3 sekarang.

    Mahasiswa S1 memang pada dasarnya belum bisa “dilepas”. Masih kroco, tanggungjawab pribadinya masih rendah. Baca text Inggris saja masih belepotan. Mungkin lebih susah memahami bahasanya ketimbang esensi ilmunya. Jadi memang perlu pembimbingan luar biasa dari para dosen. Tapi saya setuju kalau standar pemberian nilai diperlunak sedikit. Jangan condong C-D-E, mestinya bisa A, dan B, kasih C kalau sudah kebangeten banget.

    Mahasiswa S2, mulai bisa dilepas sama dosen, baru mulai bisa mencoba menyerapi kaidah keilmuan, “Ooo gitu tho rupanya ilmu ini …”, dan lantaran banyak terapan praktek, jadi semakin menyerapi dan memaklumi. Dapat nilai A di kuliah S2 jauh lebih mudah ketimbang kuliah S1. Mungkin lantaran tanggungjawab pribadi yang lebih meningkat, dan dosen-dosennya sudah pada percaya kalau mahasiswanya bukan kroco lagi🙂

    Mahasiswa S3. Jujur, yang diomongkan dosen di kelas nggak ada apa-apanya, cuma nyerocos ngalor ngidul kesana kemari. Ujian tetap saja harus mengacu pada keahlian mendalami buku textbook dan berbagai paper ilmiah, searching sana-sini, swadaya, swakarsa, tanpa pembimbingan ketat. Kudu bisa mengerti sendiri. Dan hebatnya, (mungkin lantaran sudah pada Prof. Dr.) dosen-dosennya pinter membuat soal dengan sifat “project”, ya- mau nggak mau kudu memahami konteks ilmunya, kalau enggak isin rek ….:-) Dapat nilai A sebenarnya tidak susah. Soalnya kalau nggak dapat A, uiiissiiin temen rek!

    Jadi, untuk mahasiswa S1, yang normal-normal sajalah. Pengalaman saya: angon bebek dan cecangkrukan di taman kayaknya lebih banyak memberi pencerahan hidup …🙂

    Salam, Efendi Arianto, M30
    e_arianto[at]yahoo.com

  3. Sekedar nambahi dari apa yang ada di kepala saya. Sebuah diskusi antara dosen dan mahasiswa di Teknik Mesin Republik MIMPI…

    Dosen: Kenapa kok kamu gak mau belajar sebelum kelas dimulai?

    Mhs : Lho pak, Kan sejak SMU sudah seperti itu… Dan sudah terBUKTI lagi. BUKTInya saya bisa masuk ITS, Teknik Mesin lagi. Katanya kan Teknik Mesin ITS nomer satu se Indonesia, bisa masuk sini kan berarti saya sudah hebat… Lha kalo sudah terBUKTI ngapain pakai cara lain yang belum jelas tingkat keefektifannya….

    Dosen: Lho, Kuliah itu laen lho sama SMU, gak bisa seenaknya gitu?

    Mhs: Kata siapa pak laen? Paling yang laen hanya mata kuliah dan jam kuliahnya saja. Sedangkan yang laennya sama seperti SMU. Senior saya lho sudah memBUKTIkannya; Mereka hanya belajar waktu akan ujian, tugas mbacem, ujian contoan, nilai jelek dibilang nasib, gak lulus ya ngulang semester depan depan, dst… BUKTInya: senior-senior itu bisa kerja di perusahaan multinasional, gajinya gede, bahkan juga ada yang jadi dosen di Teknik Mesin. Apa mereka punya cara belajar laen selain kebut semalam? jawabnya pasti tidak lha pak.

    Dosen: Lho kalo ketahuan nyontek waktu ujian itu bisa didel satu semester lho?

    Mhs: Ah bapak ini kayak hidup di alam nyata saja…. sadar dong pak, BUKTI nya waktu ujian banyak yang saling nyontek, ya gpp kok. Paling dibiarkan sama pengawasnya, atau malah pengawase pura-pura gak ngerti. Yang bisa didel 1 semester itu kalo ngerepek pak, bukan kalo nyontek dan contoan….

    Dosen: Kamu itu kok susah dibilangin sih… Mau jadi apa nanti?

    mhs: minimal jadi kayak bapak lha… Kan bapak sama kayak saya. BUKTI nya: ujian jam 13.00, soalnya baru dikasih jam 10…. masih mending sya pak, ujian besok, belajarnya malamnya….

    Kesimpulan: BUKTI yang dilihat oleh MATA mahasiswa dari lingkungan sekitarnya lha yang mempengaruhi ATTITUDE mereka…

    Salam
    Alief, wikarta[at]me.its.ac.id

  4. Pak Jule yang bambang ysh,

    Wah kalau begitu sedih dech, Penyakit and gaya sma masih terbawa ya. Dengan kata lain berbagai agenda kegiatan awal perkuliahan ospek dan poros cuman, maah, bullshit saja. Nah ini musti difahamkan kepada semua mhs baru dan fihak yang menangani mhs baru. Hanya satu kalimat: “Revolusi budaya dan cara fikir, sekarang juga”.

    Tampaknya terlalu bombastis, but is there anythingelse? I do not think so.

    Salam ueber alles untuk ocha.;-))
    Item

  5. Pak Budi yang Item ytd (=yang tiada duanya),

    Saya cuman ingin meng-utara-kan uneg-uneg saya bahwa saya pernah ‘frustasi’ dalam menghadapi mhsw sarmud sebuah kelas. Dan hal ini saya kompensasikan dengan mencoba menjadi ‘roh’ mhsw ini dan memahami pikirannya secara penuh (termasuk juga yang gennnndheng itu).

    Ya benar, masalah utama yang sering saya ingin rumuskan adalah bagaimana cara efektif dan selektif untuk merubah pola pikir siswa yang terbawa dari SMA. Sudah beberapa cara pernah saya lakukan, dan saya yakin sejalan dengan jumlah jam terbang hal ini lumayan bisa didapat.

    Namun saya rasa lebih baik kalo pola ajar ini di’saji’kan lebih ‘tangible’ (terukur, bingung saya terjemahannya) dan bisa dipelajari. Mengingat kuliah untuk mhsw sarmud banyak dipegang oleh dosen muda, dengan beban minimal 10 sks (setara 30 jam/minggu), dan dengan beragam topik kuliahnya. Dan banyak lagi masalah lain.

    Ini penting, karena ya… itu… jangan sampai ada kata: “Wah udah terlamabat.”

    Sementara ini, menurut saya, hasil yang bisa kita pakai sebagai ukuran terbatas akan keberhasilan perubahan budaya sarmud adalah Perencanaan ELMES (yang bisa menggambarkan kemampuan awal dalam meneliti, analisa dan disain). Selepas ELMES diharapkan siswa sudah ‘trengginas’ dan PD dalam re-search. Cara kuliahnya-pun harus berbeda dengan kuliah sarmud.

    Selain peer-group, asisten responsi, rasanya, sebagai pengajar, saya butuh ‘alat-monitor’ yang mampu dengan cepat mengatakan pada saya bahwa siswa anda ‘loyo’, siswa anda ‘jooossss’, atau siswa anda pake ‘strategi gennnndheng’. Sehingga saya segera dapat merubah cara saya mengajar sebelum terlambat. PJM bisa nggak bantu nih…

    ya deh ueber alles !
    JB Ariatedja, ariatedja[at]me.its.ac.id

  6. Tahu kok ngga’ boleh.., haknya sama untuk masalah “tahu dan tdk tahu” meskipun didapuk jadi mahasiswa. Paling baik ngga’ punya jam dan jangan lihat jam pada saat ngumpulkan soal..

    Suwarmin

  7. Haha..pak Warmin kocak abis..kyknya teknik masin butuh 1000 Budi yg berbudi deh utk bisa memproduksi alumni yg siap berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional..kalau masih blm cukup ya terpaksa deh ditambah dg 1 Warmin yg kocak, mudah2an sdh cukup..:=D

    Sebatas pengamatan awam sy, virus yg masih hinggap disebagian besar mhs ITS, tmsk teknik mesin ITS adalah kurang PD dan motivasi utk maju masih rendah. Dua virus ini menjadi tanggungjawab para dosen utk melenyapkan dan menggerusnya dg obat kuat pembangkit PD dan motivasi tinggi.Kalau dua hal ini sdh kita atasi, yg lain2(kurikulum,metode ajar,prasarana dll) bisa menyesuaikan dg perkembangan dan kondisi kekinian.

    Harus LG

  8. Setubuh eh setuju pak KUDU eh HARUS yang masih keturunan langsung Ki Ageng Sela, Saya sangat setuju bahwa soft skill mhs dalam hal ini adalah PD dan Motivasi harus digenjot pol.

    Dan sy kira, kita sdh melakukan banyak hal selama proyek QUE berjalan utk memotivasi mhs dg memberikan award, sering mengadakan kuliah tamu, dll.Dan tampaknya hasilnya kurang memuaskan.

    Forum resmi spt tatapmuka dlm perkuliahan, biasanya kurang efektif dlm memasukkan isme2(baca:isme PD dan motivasi tinggi) ke dlm diri mhs. Perlu dibentuk forum2 diluar forum resmi yg bisa meper-erat hubungan dosen dan mhs.Forum yg bisa menjadi tpt ngobrol ngalor-ngidulatau hanya sekedar minum kopi sambil ngompol(ngomongin politik) atau apasaja yg penting mhs merasa bebas berdialog dan mencurahkan segala isi hatinya pd kita, bukan sbg dosennya, tp sbg sahabat dan teman berdialog. Disitulah isme2 td bisa dg efektif kita suntikan kedalam mhs.Kalau perlu mhs selalu kita libatkan dlm setiap proses penting di tubuh teknik mesin agar mereka merasa jd bagin dr keluarga besar jurusan teknik mesin ITS.

    Forum untuk ngompol bareng juga buaik. Tetapi dari seratus prosen dosen TM berapa persen sih yang care thd masalah semacam ini? Kalau hanya 50 % nah itu baru siip.

    Setiap pejabat dan dosen pernah kami usulkan utk ikut Orientasi Pengembangan Pendamping Kemahasiswaan shg beliau jadi ngeh bhw tanggung jawabnya tidak dimuka kelas doang tetapi juga pembentukan soft skill/karakter mhs. Fakta dan hasil…. wis ora usah dirembug. Banyak alasan dan pembenar dimajukan, mulai dari ketiadaan waktu maupun rupiah/ekonomi. But, most of us (termasuk saya) mungkin tidak terlalu terpanggil menjadi dosen dalam perspektif ada care terhadap pengembangan karakter dan softskill mhs.

    Maaf kalau ada yg kurang pas.
    Salam ueber alles selalu.
    Budi item

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: