mesin-its-indonesia

Mana yang Harus Dibenahi Dulu?

In Karakter Pelajar, Kompetensi Dosen, kurikulum, Kurikulum Materi, Sistem Pendukung, Strategi Pembelajaran, teknik mesin on 12/05/2007 at 00:00

Setuju deh. (Sekolah di ITS Sulit?)

Satu sisi saya membayangkan seperti ini:

Ada seorang anak, dengan kapasitas mencerna makanan maksimal 1 piring setiap makan – 3 kali sehari. Pola makannya pun masih sederhana nasi-tempe-tahu. Dia masuk dalam sebuah training “PANDAI MAKAN” selama lima hari yang bertujuan meningkatkan kemampuan dan kapasitas makannya. Diharapkan setelah lulus dia punya ‘rasa’ Bistik A sampai Z, Spageti X, Y, Z, dan macam-macam lagi. Sementara itu industri penerima lulusan ini juga macam-macam, ada restoran khusus kentucy saja, ada pizza hut, ada bistik obong, …, bahkan banyak juga yang tempe-penyet. Tugas lulusan dalam restoran sementara ini hanya membedakan rasa saja.

Nah, di training ini ada kokinya, ada manajernya, dan kebetulan baru dibentuk tim-mutunya. Okelah sementara lupakan manajer-nya. Para koki bertugas menghidangkan makanan tertentu sebaiknya. Tiap hari peserta diuji mengenai kemampuan membedakan rasa ini. Dan tim-mutu menemukan bahwa hasil ujiannya 20% masih gagal.

Para koki bilang “lho, makanan sudah saya hidangkan sebaiknya, lah wong saya sampai pegal-pegal masaknya, eh… mereka (peserta) hanya diam tidak mencernanya dengan baik”.

Sementara itu peserta juga bingung, “saya sehari biasanya pandai mencerna tahu-tempe sepiring sekali makan, tapi kalo musti mulai mencerna macam-macam seperti spageti ringan, bistik ringan, pizza ringan dalam satu hari, wah … ya perut saya bingung. Di hari selanjutnya saya tambah bingung karena saya gak PD, lha wong saya belum tahu persis bedanya.”

Sementara itu industri restoran bilang: “saya perlu lulusan yang siap rasa. TITIK!”. Para koki juga bilang “lulusan mutlak bisa ini-itu, TITIK!”

Nah, mana nih yang harus dibenahi? Pasti banyak, tapi yang mana duluan? Para koki membenahi apa? para tim-mutu berperan dimana?

Hehe, semoga menyegarkan ya….

JB Ariatedja, ariatedja[at]me.its.ac.id

  1. Pa Nendra,

    Sulit juga kalau salah satu pihak tidak mau mengalah. Cuma satu yang jelas, para industri restoran tidak akan merubah kualifikasi bagi para calon karyawannya. Malah, demand mereka akan terus bergeser dan berubah demikian cepat karena customer mereka tidak tolerant terhadap restoran yang tidak cepat tanggap dan tidak punya kemampuan. Kalau tidak bisa dapat di Indonesia, mereka punya banyak alternative untuk mengambil diluar Indonesia.

    Yang mesti dibenahi adalah para koki dan trainee nya. Saya akan bahas ke trainee dulu. Tuhan menciptakan kita ini adalah sempurna dan punya jiwa social yang tinggi. Jiwa social kita ini juga berurusan dengan yang namanya proses adaptasi. Karena kita punya lingkungan, komunitas, harapan dll. Karena kita ini hidup dan mau hidup. Kecuali kita punya alasan lain untuk tidak punya harapan. Itu lain perkara. Adaptasi ini berhubungan dengan kondisi dimana dia tinggal, dia hidup, untuk menjadi seorang manusia utuh menurut kodratnya dan punya tanggung jawab atas kehidupan yang diberikan Tuhan.

    Dalam perkara ini, seorang trainee juga harus beradaptasi dengan apa yang menjadi tuntutan sebagai seorang yang “pandai makan”. Adaptasinya bisa berupa fisik berikut juga berupa mental. Berupa fisik bisa dicontohkan dia harus siap makan lebih. Tidak bisa tidak. Karena yang namanya kegiatan makan, dia harus menyesuaikan dengan perutnya. Apapun makanan yang tersedia. Dia harus siap bisa makan banyak. Dengan olah raga contohnya. Dengan proses mencoba makanan yang berbeda dengan yang dia makan. Dengan makan tidak mengenal waktu. Dengan makan tanpa minum dll hal yang berupa aktivitas adaptasi dia biar bisa ngikuti arus dan seleksi alam. Dia harus bisa makan semua makanan kecuali ada makanan yang bertentangan dengan prinsip nya dia dan makanan yang tidak sesuai untuk dihidangkan ke seorang manusia.

    Semua makanan yang tersedia, disediakan oleh sang trainer. Trainer sudah punya pengalaman bagaimana dia menyiapkan makanan yang siap untuk para trainee nya. Karena pastinya beda antara trainee yang baru masuk dengan trainee yang sudah lama masuk dalam training ini. Racikannya pasti beda. Trainer juga harus terus menerus meng-up date kan diri agar apa yang jadi bahan training adalah bahan terbaru dari makanan terbaru yang saat ini menjadi trend dari para customer restaurant. Namun, jangan lupa, jiwa seorang trainer juga perlu dijaga. Karena pada dasarnya, seorang trainer adalah pemberi jasa dan pengabdian. biasanya jika bicara masalah pengabdian, ada sesuatu yang harus di-compensate terhadap hal-hal material. Itu yang perlu ditekankan.

    Nah, satu yang ingin saya tambahkan agar link ini bisa bersiklus dng baik adalah adanya badan mutu. Tapi badan mutu ini tidak hanya memberikan penilaian terhadap siklus ini. Badan mutu ini juga memberikan sumbangsih baik itu saran, memasukan materi baru untuk program training tersebut, bisa menjadi badan konsultasi baik itu yang datang atas kepentingan pribadi maupun group, bisa menjadi penguji mutu dari awal baik untuk calon trainee atau trainer, bisa menjadi mediator bagi industri restaurant dengan program training dll. Fungsi badan mutu ini bergeser menjadi seorang konsultan, pengontrol dan penyetel bagi semua hal termasuk dalam link ini. Dia bisa menjadi konsultan baik teknis dan/atau non teknis.

    Saya percaya, jika masing-masing komponen yang saya sebutkan diatas mengetahui fungsi dasarnya, hak dan kewajibannya, proses training ini mendapatkan tujuan nya.

    donny rico m
    rico.donny[at]gmail.com

  2. P Julendra;

    Pendapat saya:

    Pertama harus diketahui dulu, semua proses, atau pekerjaan training mentraining tadi pasti mempunyai tujuan yang jelas, istilah keren-nya harus ada visi, misi dan tujuan yang jelas. Sepertinya pada soal, sudah terdefinisi dengan jelas tujuan itu:

    —- training “PANDAI MAKAN” selama lima hari yang bertujuan meningkatkan kemampuan dan kapasitas makannya. Diharapkan setelah lulus dia punya ‘rasa’ Bistik A sampai Z, Spageti X, Y, Z, dan macam-macam lagi. Sementara itu industri penerima lulusan ini juga macam-macam, ada restoran khusus kentucy saja, ada pizza hut, ada bistik obong, …, bahkan banyak juga yang tempe-penyet. Tugas lulusan dalam restoran sementara ini hanya membedakan rasa saja. —-

    Perancang training, pelaksana training, bahkan pengetes (katanya spesialis mutu) semuanya harus mengacu pada tujuan program menghasilkan lulusan yang kompetensinya dan kualitasnya diukur dari kemampuannya icip-mengicip, membedakan berbagai rasa, yang ditentukan oleh restoran pengguna lulusan. Jadi yang menjadi ukuran adalah kompetensi dan kualitas lulusan tadi. Mampu nggak lulusannya melakukan pekerjaan cip-mengicip masakan tadi. Kalau ternyata kompetensi dan kualitas lulusan tadi tidak tercapai, maka semua usaha tadi sia-sia atau tidak efektif. Sibuk dan pegalnya tukang masak tidak relevan, karena sia-sia. Yang harus dibenahi dulu, ya kurikulum program pendidikan beserta pelaksanaannya dievaluasi kembali, karena tidak menghasilkan lulusan seperti yang diharapkan.

    Dalam mendisain program dan pelaksanaan, perlu dilihat status/kondisi dari materi input yang akan dididik. mungkin (feasible) apa nggak dalam waktu 5 hari murid tadi dididik menjadi pintar. Kalau misalnya lidahnya buntung, dilatih oleh ahli masak kayak apapun ya tidak mungkin bisa. Bakat matematik, lemah seni, kalau masuk jurusan Seni Rupa, ya akan DO. Sebaliknya bakat seniman seni, dipaksa masuk matematik, banyak DOnya.

    Quality is in the eyes of beholder. Kualitas itu yang menentukan, mengukur adalah yang akan memakai, pengguna. Jadi kalau restoran pengguna menyatakan lulusan harus siap rasa, ya kompetensi seperti itulah yang harus diikuti.

    Sudiyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: