mesin-its-indonesia

Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia

In Karakter Pelajar, Kompetensi Dosen, kurikulum, Kurikulum Materi, Sistem Pendukung, Strategi Pembelajaran on 11/05/2007 at 00:00

Berhubung masih hangat2 nya soal pendidikan, berikut adalah info yang mungkin bisa berguna buat kita semua. ada juga mungkin yang bisa dicontoh dari apa yang terjadi di dunia pendidikan di negara lain.

KUALITAS PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA
Oleh : Andri Aji Saputro

Tahukah Anda negara mana yang kualitaspendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia?Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memangbanyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untukkualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitaspendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimanaperjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memangbegitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru diseluruh dunia.

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandiaberdasarkan hasil survei internasional yangkomprehensif pada tahun 2003 oleh Organization forEconomic Cooperation and Development (OECD). Testersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuansiswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademistapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikananak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandiaberhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apakuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia?Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memangsedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara diEropa tapi masih kalah dengan beberapa negaralainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya denganmenambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan,menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswadengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandiamulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkandengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun,dan jam sekolah mereka justrulebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu.Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelahFinnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jamperminggu

Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memangterletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandiaboleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaikdengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiriadalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji merekatidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaikbiasanya justru mendaftar untuk dapat masuk disekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamaryang bisa diterima, lebih ketat persaingainnyaketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya sepertifakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan denganIndonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengankualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggidengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikandan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salahjika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengankualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebutmereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapunyang mereka suka, dengan kurikulum yang merekarancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilihsendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujiandan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangatpenting bagi kualitas pendidikan, mereka justrupercaya bahwa ujian dan testing itulah yangmenghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyaktesting membuat kita cenderung mengajar siswa untuklolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisadiukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambilujian untuk mengetahui kualifikasi mereka diperguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkanke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri,bahkan sejak Pra-TK! Inimembantu siswa belajarbertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kataSundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso,Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab merekaakan bekeja lebihbebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independendengan berusaha mencari sendiri informasi yang merekabutuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika merekamencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kitatidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskanapa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidakmengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala,salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolahsangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komandohanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajarmenjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif.Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah diFinlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yangberprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yangterbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalantapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorangguru yang bertugas menangani masalah belajar danprilaku siswa membuat program individual bagi setiapsiswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harusdicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudiandatang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb.Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untukmenjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadappekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kitamengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebutakan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka iniakan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswadiperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanyadiminta membandingkan hasil mereka dengan nilaisebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidakada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkanagar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskandiri pada segelintir siswa tertentu yang dianggapterbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan diFinlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yangtinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen padakeberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalausaya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorangguru, maka itu berarti ada yang tidak beres denganpengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangatbertanggungjawab.

Diambil dari Top of the Class – Fergus Bordewich

Salam,
donny rico m, rico.donny[at]gmail.com

  1. Ternyata kuncinya kualitas guru.
    Kalau dihubungkan dengan diskusi sebelumnya tentang sulitnya sekolah di its, bisa disimpulkan bahwa murid jadi malas karena mutu gurunya kurang
    baik. Paling tidak gurunya kurang dapat memberi motivasi yang tinggi untuk belajar. Apa betul begitu maksudnya.???🙂

    Salam,
    witantyo

  2. Pak Witantyo yth,

    Saya sepakat bahwa yang menjadi kata kunci adalah guru/dosen yang baik. Untuk itu perlu di derivasi lebih detil spesifikasi teknis guru/dosen yang baik.

    Menurut pendapat …Ken Arok :-))…. guru yang baik ya tentu saja yang menguasai bidang ilmunya …tidak berarti harus lulusan terbaik lho, meskipun juga jangan lalu diterjemahkan sebagai lulusan lapis terbawah (alias sisa-sisa residu)….. ..dan (tidak kalah penting) menguasai teknis mentransfer pengetahuan yang ada dalam benaknya.

    Salah satu aspek dalam alih pengetahuan itu ya memotivasi peserta ajar agar mau untuk berubah (tentu masih sangat banyak aspek lainnya). Menurut psikologi pendidikan.. .uhui melip banget ya?…… keberhasilan proses pendidikan ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku peserta didik agar mampu dan mau bertindak seperti model ideal.

    Nah mari kita bercermin ….boleh sendiri-sendiri, tidak dilarang bersama-sama. .. apakah kita sudah boleh dianggap mendekati guru/dosen yang baik? … tidak usah yang teladan lah. Apakah kita belajar dan menerapkan berbagai metode pengajaran/pendidik an yang entah banyak entah sedikit dapat memotivasi mahasiswa kita? Aspek lainnya kita rembug nanti ya.

    Sebelum ditutup,Entah buruk entah baik kita adalah produk pendidikan masa lampau yang ternyata dalam berbagai aras mampu mewarnai pendidikan kita dan masih sempat mengevaluasi yang dibelakang dan mengkritisi yang sekarang serta merancang yang akan datang.

    Salam ueber alles (iki sing bener bukan uber), jayalah mesin ITS.

    Budi Utomo Kukuh Widodo, buditem[at]me.its.ac.id

  3. Salam solidaritas..
    cman maw coment aja, kayaknya pendidikan di indonesia tidak mungkin bisa seperti di finland…
    kenapa??

    liat aja anak SMA jarang ada yang cita2 jadi guru..

    jadi hasil akhirnya guru kita kurang kompetitif krn kurang bersaing, sejak masuk PT

    padahal, gak ada kita tanpa guru

  4. cuma pengen kaseh tau aza am semua guru khususnya di negeri kita ini.
    coba gech semua guru itu kayak guru di desa-desa. mereka walaupun gaji nya sangat-sangat-sangat dan sangat minim, tapi mereka berkorban waktu dan tenaga untuk anak didiknya.
    ga kayak yang sering kita denger saat ini, guru koq protes minta di naikin gajinya.
    berarti dia cuma punya niat buat cari UANG DOANK!!!1 tanpa mikirin anak didiknya.
    klu guru yang bener itu dia akan berusaha ngasih pendidikan kepada anak muridnya, bagaimanapun caranya biar anak didiknya itu punya kompetensi yang baik. klu anak didiknya berhasil Insya 4JJ mereka ga kan lupa koq ama gurunya.
    so, jiwa sosial guru oitu yang kurang diperhatikan. termasuk akhlaknya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: