mesin-its-indonesia

SEKOLAH DI ITS SULIT?

In Karakter Pelajar, Kompetensi Dosen, kurikulum, Kurikulum Materi, pendidikan, Sistem Pendukung, teknik mesin on 04/05/2007 at 00:00

Dear netter M -ITS. Diskusi dengan topik “Sekolah di ITS sulit”, mendapat tanggapan yang cukup ramai di-mailist itsnet yang membernya dosen-2 dan karyawan ITS, dan di mailist “dos-mesin” yang membernya dosen-2 T Mesin. Yang saya ingin mendapat tanggapan adalah dari alumni dan mahasiswa Teknik Mesin ITS. Ini akan melengkapi diskusi sebagai masukan bagi ITS untuk selalu memperbaiki diri. Untuk niat itu, topik diatas saya lemparkan ke forum ini.  ==

Sekolah di ITS Sulit .

Judul subject diatas, mesti diperluas menjadi “Sekolah dan Ngajar di ITS sulit”.

Mengapa saya mengatakan demikian?

Akhir semester lalu, PJM (Pusat Jaminan Mutu) ITS melakukan observasi kinerja pembelajaran semester ganjil 2006-2007 dari seluruh Jurusan/Prodi S1 dan D3 di ITS. Kinerja pembelajaran dalam satu semester minimal dapat dilihat dari 2 hal: (a) nilai rata-rata kelas (NRK), dan (b) Index Prestasi Semester (IPS) rata-rata mahasiswa. Rekap rata-rata kinerja tiap fakultas, plus jurusan T Mesin sbb.:

Kinerja pembelajaran ITS, dilihat dari nilai rata-rata kelas (NRK) dan Index prestasi semester (IPS rata-rata).

Kolom 3 dan 4 menujukkan jumlah kelas yang NRK kurang dari dari 2, yang saya anggap rendah.

(Fakultas; jml kelas mt.kuliah; jml kelas yg NRK<2; prosentasi kelas NRK<2; IPS rata-2)

FMIPA 375 47 13% 2.59 F Matematika Ilmu Peng. Alam

FTI 1406 203 14% 2.59 F Teknologi Industri

FTIf 172 17 10% 2.66 F Teknik Informatika

FTK 382 92 24% 2.44 F Teknik Kelautan

FTSP 962 183 19% 2.66 F Teknik Sipil dan Perencanaan

All ITS 3297 542 16% 2.61 rata-2 seluruh ITS

T. Mesin 188 34 18% 2.41 khusus S1 regular Mesin

Nilai rata-rata kelas (NRK) dibawah 2 menunjukkan bahwa dikelas tersebut lebih banyak mahasiswa yang mendapat nilai C, D, E dari pada yang mendapat nilai B, AB, A. Kelas yang demikian (sejumlah 16% dr seluruh kelas di ITS) kinerjanya tidak menggembirakan, karena mengakibatkan banyak mahasiswa mengulang kuliah, yang akibatnya masa studi panjang, beban ngajar dosen tinggi, dan konsekuensi beaya bagi negara maupun mahasiswa. Sementara IPS yang rendah (masih sekitar 2.61), dan tidak beranjak dari semester ke semester akan berujung ke IPK akhir yang juga rendah.

IPS, IPK yang rendah dan masa studi panjang, berarti mahasiswa ITS kesulitan mempelajari ilmu, dan dosen ITS kesulitan mengajarkan ilmu ke mahasiswa dengan target sesuai dengan yang ditulis pada kurikulum. Padahal ITS tidak kesulitan mencari lulusan SMA yang relatif pintar.

Apa bedanya dengan sekolah di Amerika, Eropa, Jepang, Korea dan deket-deket saja, sekolah di Singapore, Malaysia, Thailand. Kok mereka tidak kesulitan ya? Apa resepnya? Apa bedanya dengan kita di ITS ini?

Jika ditanya, mahasiswa akan bilang, ujiannya sulit, dosennya ngasih penilaian terlalu mahal dsb. Dosen dilain fihak akan bilang mahasiswa lamban, kurang belajar, tidak dapat mengerjakan ujian dengan baik, sehingga segitu itu hasilnya, sekedar cukup. IPS dan NRK rendah, berakhir dengan masa studi panjang dan lulusan yang IPK nya rendah. Kedua hal tersebut sebetulnya menunjukkan ke tidak efisien-an sistem pendidikan. Itu relatif jika dibandingkan dengan sistem di luar sono.

Marilah kita renungkan mengapa demikian dan apa yang mesti kita lakukan. Untuk diketahui, perusahaan besar dengan gaji tinggi sering minta IPK minimal 3.4 atau 3.5, saat lulusan melamar pekerjaan. Angka IPK dibawah itu, bisa-bisa dilihat saja tidak. Calon mertua, pastilah juga mengharapkan calon mantu lulus 4 tahun, sesuai kurikulum.

Sudiyono Kromodihardjo, urge01[at]rad.net.id

  1. […] Posted May 10, 2007 Mengomentari sistem pendidikian di ITS? wow…sebenarnya bukan kapasitas  saya…wong saya bukan pakar pendidikan, pakar sekolah, […]

  2. […] Do Correction Action Posted May 12, 2007 Pa Sudiyono, terima kasih atas share nya dan kemauan bapak untuk mendapatkan respond dari kami-kami yang telah selesai mendapatkan […]

  3. […] mau ikut sharing…. Mumpung saya baru selesai kuliah September 2002jadi masih ingat masa2 kuliah.Saya kuliah […]

  4. […] Pendidikan Terbaik di Dunia Posted May 11, 2007 Berhubung masih hangat2 nya soal pendidikan, berikut adalah info yang mungkin bisa berguna buat kita semua. ada juga mungkin yang bisa dicontoh […]

  5. […] Mana yang Harus Dibenahi Dulu? Posted May 12, 2007 Setuju deh. (Sekolah di ITS Sulit?) […]

  6. Ikut urun rembug boleh dong, kalau saya berpikir justru tingkat kesulitan kuliah di ITS harus ditingkatkan, karena logika nya dengan banyaknya piranti yang membantu harusnya kualitasnya lebih meningkat;

    Contohnya: jaman dulu tugas gambar masih pakai kertas kalkir dan rapido, kalau gambarnya salah siap2 deh silet buat ngerik, tapi sekarang semua nya serba komputer mau gambar tinggal buka deh AUTOCAD nya gambar salah tinggal di del, ndak perlu capek2 ngerik tinggal di print lagi.

    Jadi kesimpulannya kalau kualitas dan tingkat kesulitan tugas gambar itu disamakan dengan yang dulu ya jelas ndak bisa, berarti itu kemunduran. Harusnya tingkat kesulitan, presisi dan kerapiannya dll harus lebih dari yang dulu betul gak!!!

    Jadi intinya saran saya buat ITS terus tingkatkan kesulitan dan kualitas kuliah di ITS

    “What people think in the past was exelence, today only become standard, and in the future only became below the standard”

    Firman Susilo Hidayat, firman.h[at]panunited.co.id

  7. Pak Sudiyono dan bapak ibu dosen yang lain…..

    Menurut saya, sebaiknya JANGAN utak atik standar mutu kelulusan kita, kecuali mau ditingkatkan, JANGAN pernah berpikir untuk menurunkannya hanya karena ingin lulusan ber IPK tinggi dan masa kuliah singkat. Menurunkan standar hanya bagus untuk jangka pendek saja, IPK tinggi, kelulusan singkat, akibatnya lulusan banyak diserap perusahaan bergaji besar. Tapi yakin itu nggak akan lama, kinerja sebenarnya lulusan kita tetep akan segera kelihatan. Dan kalau berlangsung terus image yang sudah turun yakin akan butuh waktu yang lebih lama lagi untuk recovery.

    menurut saya justru KABARKAN pada seluruh dunia (hayyahh…bahasanya itu lho…) bahwa standar mutu kelulusan kita tinggi, punya value , toh perusahaan sekarang juga nggak selamanya bodo2 amat hanya melihat IPK sebagai parameter penerimaan. Ini justru bisa jadi faktor pembeda kita dengan institusi yang sejenis dalam menjalani persaingan, differensiasi gitu loooh…………..:-))

    Justru harus ditanamkan pada mahasiswa bahwa IPK tinggi TETAP penting, lepas mereka mau jadi karyawan atau pengusaha. Plus penambahan wawasan bahwa IPK tinggi akan semakin top kalau dilengkapi dengan leadership, pengalaman org, sosialisasi dll.

    Tetap semangat.
    _=BENY=_

  8. Kebetulan saya baru dengar presentasi dari Pak Rhenald Kasali. Jadi saya ingin berbagi.

    Konsep yang saat ini diterapkan di PT-PT terkemuka di luar : nilai digunakan untuk mendorong siswa. Bukan untuk menjatuhkan siswa. Jadi ngga ada lagi tuh yang namanya dosen pelit sama nilai. Justru dosen berlomba-lomba memberi nilai yang bagus, agar mahasiswanya termotivasi untuk maju. Namun konsep seperti ini juga butuh waktu untuk dapat membuat mahasiswanya terstimulasi. Kalo langsung diterapkan, kebayang kan kalo mahasiswa akhirnya ngga merasa perlu belajar karena berpikir toh tetap akan dapat nilai bagus.

    Supaya nilai bisa bagus, maka yang jadi penentu jangan cuman UTS dan UAS saja, namun juga partisipasi mahasiswa di kelas dan tugas. Baik tugas perorangan maupun tugas kelompok. Mengapa demikian? Karena untuk menjadi leader yang baik di dunia kerja (ya jelas mahasiswa ITS kan disiapkan utnuk jadi Leader, bukan staff) yang dibutuhkan adalah kemampuan komunikasi yang baik dan team work (selain tentu saja technical skill). Dengan ‘memaksa’ mahasiswa untuk berpartisipasi dalam diskusi in class, maka secara tidak langsung kita sudah melatih mahasiswa untuk berkomunikasi dan menganalisa kasus dengan baik. Dan dengan memberikan tugas kelompok, maka kita sudah melatih mahasiswa untuk bekerjasama di dalam sebuah team.

    Tentu saja ujian masih perlu dinilai, karena tetap saja butuh technical skill.

    Nah, kalau ternyata dengan konsep seperti itu masih saja ada mahasiswa yang nilainya jelek, artinya secara teknis dia jelek, komunikasi dan kemampuan analysis juga jelek, teamwork juga jelek, ya buat apa dipertahankan, silakan di-eliminasi saja. (sekali lagi ini usulan yang ekstrim).

    Jadi menurut saya, mungkin konsep pengajaran di ITS sudah saatnya di-improve. Dicari metode lain, siapa tau mahasiswa dan dosen juga sudah jenuh dengan metode yang sekarang, makanya kualitas jadi ‘seolah-olah’ menurun.

    Monggo diralat kalau ada yang salah.

    Terima kasih,
    Bernard S. M37

  9. Mas-mas: Bernard S, M. A Yusuf, Donny Rico, Beny, Utomo;

    Input dari anda sangat kami hargai, dan sangat bermanfaat bagi kita yang mengelola dan jaga kandang di Almamater. ITS selalu ingin memperbaiki diri terus menerus, dengan kendala serta kemampuan yang ada.

    Feed back dari alumni maupun mahasiswa yang langsung merasakan proses di ITS merupakan bagian yang sangat penting bagi ITS yang niat untuk selalu memperbaiki diri. Tentunya kita tidak ingin mengutak atik untuk menurunkan standar mutu. Justru sebaliknya, bagaimana meningkatkan mutu, baik mutu output maupun proses. IPK rendah sebetulnya indikasi proses yang kurang baik. IPK sekitar kurang dari 3 sebetulnya kan pernyataan bahwa lulusan itu dianggap penguasaan ilmunya, atau kemampuan belajarnya hanya 66%-70%. Kalau IPK 2.5 malah 65% kebawah. Apa betul begitu penguasaannya segitu. Kalau betul memang penguasaan hanya segitu, maka berarti prosesnya yang perlu dibenahi. Kalau tidak betul begitu, (banyak yg mengatakan lulusannya sangat kompeten menguasai ilmu mesin), kenapa kok cuman diberi nilai segitu. Masa studi juga begitu, kurikulum kita mengatakan 8 semester, seperti halnya Nan Nyang Singapor, UKM malaysia, IIT India, Univ. Chulalongkorn Bangkok, dan banyak perguruan tinggi lain di LN yang mendapat ranking bagus. Tetapi kenapa di tempat kita ini lulusan yang sekolahnya tepat waktu kon sedikit amat. Di ITS sedikit, di T Mesin mungkin hanya 2%, yang tepat waktu. Padahal ditempat lain LN tadi, umumnya yang tepat waktu prosentasinya besar, diatas 70%. Itu semua yang ingin diperbaiki oleh ITS dan juga oleh sistem pendidikan tinggi di Indonesia.

    Kembali masukan dari alumni dan mahasiswa sangat berharga bagi pengelola ITS untuk membenahi diri. Salam

    Sudiyono Kromodihardjo

  10. […] Merasa Sulit Sekolah di ITS Posted May 12, 2007 Sedikit share, Pengalaman saya kuliah di ITS cuma 3 tahun, maklum bukan S1. tahun pertama sudah pasti bangga soalnya masuk kampus negri – […]

  11. […] (Catatan Harian Mahasiswa) Posted Mei 13, 2007 Catatan diary seorang mahasiswa tentang strategi belajar yang dia bawa sejak SMA […]

  12. Saya setuju bahwa rendahnya anggaran operasional pendidikan adalah masalah yang mendasar di negara kita, terutama untuk …… PT yang jauh aksesnya ke pusat (Alhamdulillah sekarang paling tidak sudah ada channel di pos kementrian). Dengan rendahnya anggaran otomatis semangat para pengajar tidak bisa optimal (ini manusiawi, lumrah, karena…dosen juga manusia (syair Seurius)). Karena itu sebelum membuat kebijakan2 sebaiknya memang harus evaluasi diri, kita harus bercermin (seperti katanya Pak Budi), kalo memang kulitnya hitam khan gak mungkin cermin tersebut merubah jadi putih, he..he.. Sehingga kita bisa tahu apa2 yang kurang dan apa2 yang lebih. Bisa bercermin sendiri – sendiri (separatis), tetapi menurut saya yang palin baik adalah bercermin bersama, sehingga bisa mendapatkan lebih banyak feedback.

    Benchmark di negara lain memang diperlukan, untuk melihat / mencontoh keberhasilan. Tetapi tentunya tidak secara parsial, karena kalo saya mengandaikan kita ini seperti Toyota Kijang tahun 1995 mau mencontoh (benchmark) Hyundai Santafe (banyak dipake dosen disini), karena mungkin lebih nyaman dikendarai, langsung benchmark kondisi rodanya, ternyata berbeda, maka langsung aja Kijang tersebut diganti rodanya dengan roda Hyundai Santafe, he..he.. Dari iseng2 komparasi, sebenarnya personil yang ada Teknik Mesin ITS gak terlalu kalah dengan di sini (di universitas ini tentunya, tapi di Korea yang paling top ya di KAIST atau Seoul National University), yg sangat beda ya maslah dana, peralatan lab, konsistensi dan disiplin waktu, itu aja. Tapi kalo maslah yang lain, misalnya materi, semangat, kerja lembur, kelihatannya gak terlalu berbeda. Jadi menurut saya tinggal pinter2nya staf pengajar dan manajemen utk menyikapi kekurangan2 tersebut.

    Kibarkan Semangat Pertiwi
    Tanamkan dalam Jiwa Diri
    Derap Kaki Seiring
    Derap Kaki Serentak
    Capai ITS Jaya
    Tegak Tegarlah Semua
    Raih Cita Citamu
    Bangun Citra Gemilang
    Generasimu Tumpuan Bangsa
    Teknik Mesin ITS (cuk… deleted)

  13. […] Posted Mei 22, 2007 Kembali saya minta teman-teman yang sudah mengenal suasana perguruan tinggi  nun jauh, atau yang sekarang […]

  14. […] tolok ukurnya mestinya jangan hanya NRK dan IPS, Perguruan tinggi (PT) bukan SMA, karena akan bias kembali saja […]

  15. Satu hal yang mencolok Pak, dimanapun negara selain Indonesia dari sampling tiga negara yang pernah saya diami. Belum pernah saya temui satu dosen mengajar tiga mata kuliah dalam satu semester; apalagi ketiganya 3 sks. Belum lagi ditambah sks di pasca, atau D3 atau ekstensi (program sejenis). Silakan total sendiri setiap dosen totalnya berapa sks per semester yang tentunya ekuivalen sekian jam per minggu.

    Belum alokasi waktu untuk tugas administrasi kampus, bimbingan tugas akhir/thesis. Lalu waktu untuk meneliti, “pengabdian masyarakat/keluarga” dll. Kecuali hanya orang di ITS yang punya waktu 27 jam/hari dan energi serta fikiran yang luar biasa daya tahannya.

    Salah satu solusi yang sekian tahun lalu pernah saya lontarkan di milis ini juga, melihat pola di negeri orang. Satukan saja kuliah sejenis seperti masa kuliah bersama. Misalnya Termodinamika, ndak perlu setiap jurusan mempunyai dosen sendiri2.

    Tentunya kita pernah mengalami semua ketika punya kesulitan entah dengan assignment kuliah atau riset, memiliki akses yang leluasa dengan dosen pemberi kuliah maupun pembimbing (masa lalu ketika sedang tugas belajar diluar negeri).

    Sekedar usul (lagi), mungkin PJM sudah memikirkannya untuk mendorong jaminan mutunya.

    Dhany Arifianto TF-ITS

  16. Assalamu’alaikum wr wb

    Mau ikut urun rembug sedikit

    Selain menyatukan matakuliah yang sama di beberapa jurusan, menurut saya yang tidak kalah pentingnya adalah menghapus kelas paralel. Keberadaan kelas paralel ini membuat ITS solah-olah selalu kekurangan tenaga dosen, padahal dalam kenyataannya jumlah dosen di ITS sudah lebih dari cukup. Selain itu, dalam banyak hal, kelas paralel tidak memiliki standar yang sama, baik dalam kualitas proses pembelajaran maupun penilaian.

    Berdasarkan pengamatan kasar yang saya lakukan, pembukaan kelas paralel di ITS dilakukan dengan paradigma rasio ideal dosen:mahasiswa yang didekati dengan cara yang keliru, yaitu dengan membuka kelas paralel di mana masing-masing dosen yang mengejar di kelas paralel tersebut memiliki kewenangan dan tanggung jawab yang sama. Hal inilah yang menyebabkan tidak adanya kesamaan standar antar kelas paralel tersebut. Mengapa demikian? Karena setiap dosen memiliki tanggung jawab dan kewenangan yang sama. Efek negatifnya adalah banyak mahasiswa bernilai jelek atau tidak lulus hanya karena berada di kelas yang salah. Sedangkan efek positifnya, dosen bisa dengan mudah mengumpulkan angka kredit dari unit pengajaran.

    Pendekatan yang salah ini membuat beban SKS dosen seolah-olah jadi membengkak, tanpa diikuti dengan peningkatan kualitas karena dosen overloaded dengan beban SKS. Seharusnya, kelas paralel tersebut didekati dengan cara “team teaching” di mana satu orang dosen yang senior di mata kuliah itu mengepalai tim pengajar. Dengan begitu, untuk kuliah cukup diberikan oleh seorang dosen kepada seluruh mahasiswa yang mengambil mata kiliah tersebut sedangkan untuk responsi dilakukan oleh asisten. Itu sebabnya jabatan fungsional dosen ada yang asisten, lektor dan lektor kepala. Jika kelas paralel dihapus dan team teaching diterapkan, Insha Allah kita bisa (dan harus mau) memenuhi target SKS mengajar yang sesungguhnya. Karena tidak ada team teaching, seorang asisten ahli harus memikul tanggung jawab dan beban mengajar yang sama dengan seorang lektor atau lektor kepala, padahal pekerjaanya cuma dihargai 50% angka kredit dari yang diperoleh lektor dengan beban SKS yang sama.

    Jika team teaching dan SKS benar-benar diterapkan, maka akan terlihat dengan jelas bahwa sebenarnya ITS sudah kelebihan tenaga pengajar. Akibatnya, akan sulit untuk mengumpulkan angka kredit dari mengajar yang berarti sulit pula untuk naik pangkat,…apa kita semua mau???

    Wassalamu’alaikum wr wb
    Hamzah Fansuri

  17. […] Bongkar Kurikulum Mei 30th, 2007 Mohon komentar kritis ya. (Sekolah di ITS Sulit?) […]

  18. […] Bongkar SDM (mesin) Mei 30th, 2007 Saya bedah mengenai sumber daya manusia dan faktor yang mempengaruhinya. (data 2000, khusus teknik mesin) << Sekolah di ITS Sulit? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: